Skip to main content

Peran Tiga Tungku

Chandra Irwanto Lumban Gaol, S.Hut

Penyuluh Kehutanan Pertama

Balai Besar KSDA Papua

Image removed.

Tablasupa adalah salah satu kampung eksotis yang berada di sisi kawasan konservasi Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Letaknya terlindung di antara kaki Cycloop bagian barat dan Teluk Tanah Merah. Berada di Tablasupa dapat membuat siapa pun sanggup menuntaskan rupa-rupa perasaannya. Tablasupa tampak seperti suatu tempat yang disiapkan Tuhan untuk menyambut orang-orang yang sanggup memaknai keindahan. Melihat ke arah timur, akan terpapar Puncak Depon Way disusul jajaran yang menjulur ke arah timur. Cycloop dalam sudut pandang itu nyaris seperti raksasa hijau gelap yang terbaring tenang. Puncak Depon Way terkadang menguarkan hawa sunyi yang sangat mistis, dan sekali waktu tampak seperti penguasa atau penjaga yang tak tergoyahkan.

Saat mengalihkan pandangan ke barat, Tablasupa adalah kampung pesisir yang bersih, dengan pantai berpasir cokelat dan getaran ombak yang ritmis. Di zaman modern dengan pesatnya dunia pariwisata kini, Tablasupa ibarat gadis belia yang tengah bertumbuh, penuh daya pikat, penuh energi, mengundang rasa penasaran, sekaligus malu-malu untuk menatap dunia luas.

Dalam situasi inilah momentum pertemuan antara kami, Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Papua, dan Masyarakat Kampung Tablasupa berlangsung. Sebagai perkampungan yang terletak di daerah penyangga kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, Tablasupa sangat representatif menjadi obyek sekaligus subyek pembinaan desa yang dilakukan oleh pengelola kawasam cagar alam tersebut. Dengan segala potensi keindahan dan kekayaan budaya yang mereka miliki serta dilihat dari kekentalan adat yang mereka pegang, masyarakat Tablasupa terbilang sangat terbuka menerima hal-hal baru. Dari sepuluh kampung yang terdapat di Resort Tepera Yewena Yosu, Kampung Tablasupa-lah yang pertama kali berkenan menerima program desa binaan dari Balai Besar KSDA Papua. Kemudian jalinan itu pun mulai dibina.

Tersebutlah sekelompok orang bernama Kena Nembey.Sebuah kelompok yang kami bentuk untuk mewujudkan asa bersama, meningkatkan taraf hidup mereka sekaligus mendukung tugas kami untuk tetap menjaga kelestarian Cycloop.Kena, dalam bahasa orang Tablasupa berarti satu, sedangkan nembey berarti hati. Kena Nembey (satu hati) kemudian disepakati menjadi nama kelompok binaan kami di Kampung Tablasupa. Pembentukan kelompok yang anggotanya berjumlah 30 orang ini dilaksanakan secara partisipatif selama empat hari, 14 - 17 Juni 2017.Kelompok ini diketuai oleh Lodiwik Serontou, seorang aktor utama yang dulu menyerang dan mengumpulkan massa saat tim dari Resortmelakukan patroli perlindungan hutan pada Bulan Maret 2017 di Kampung Tablasupa.

Rabu, 1 Maret 2017, kami tim resort melakukan patroli perlindungan hutan di Kampung Tablasupa. Perjalanan ini ditempuh dalam waktu ± 4 jam untuk mencapai batas kawasan konservasi Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Tampak daun – daun sangatlah rindang, sungguh Cycloop terasa sentosasaat surya berseri-seri meramaikan hutan dengan kicauan burung surga.Belum rasanya kepuasan itu kami nikmati, muncullah segerombolan pemuda adat dengan wajah sinis dan mata melotot menghampiri kami dengan membawa parang dan sabit.“Kam ini, stop bajalan sembarang di tong pu tanah. Kam dorang buat apa disini? Sa tra mau tahu, sekarang balik (dengan nada yang sangat keras),” demikian kata Lodiwik Serontou.

Mendengar suara itu kita terdiam, pelan – pelan saya mulai mendekati Lodiwik dan menyampaikan maksud dan tujuan pelaksanaan kegiatan tersebut.“Cycloop ini keramat. Jadi tidak bisa kita jalan naik ke puncaknya. Seperti mendaki, secara adat itu tidak boleh. Jadi kita harus kembali kepada adat. Cycloop ini harus tetap begini. Karena dari dulunya sudah seperti ini,”lanjutnya. Segera, tim meninggalkan lokasi tersebut dan menuju ke wilayah perkampungan Tablasupa. Sesampai disana kami membuat secara dadakan sosialisasi dan menjelaskan secara rinci maksud dan tujuan kegiatan tersebut. Satu hal yang saya sampaikan pada saat itu kepada masyarakat yang ikut dalam sosialisasi, “Mama dan Papa dorang, kedatangan kami disini tidak serta-merta tanpa sepengetahuan tiga tungku disini. Saya sudah melakukan koordinasi dengan kepala kampung, ondoafi Demena dan Apaseray yang memiliki hak ulayat di wilayah Cycloop. Pemilik hak ulayat juga saya bawa ke lapangan, kalau memang apa yang saya sampaikan maksud dan tujuan kegiatan ini belum bisa diterima, semuanya silahkan ikut besok ke hutan.

Singkat ceritanya, setelah kita bersama-sama melakukan patroli kawasan hutan yang dimana salah satu tujuannya adalah penggalian potensi di wilayah resort dengan indikator grid (1 Grid = 100 Ha). Masyarakat telah memahami dan melihat langsung aktifitas pelaksanaan kegitan patroli.“Lai, torang minta maaf e. Kitong ini dapat kabar saja dari masyarakat.Kehutanan masuk ke hutan bawa satelit,” demikian kata Lodiwik.

Nah, disinilah peran penyuluh kehutanan selaku pendamping desa menangkap potensi dan kekuatan yang sangat besar dimana dia akan menjadikan aktor utama tersebut menjadi partnership pada pemberdayaan masyarakat di desa itu.Pertama, kamimerasa perlu memahami perihal kehidupan masyarakat Tablasupa, mulai dari jumlah kepala keluarga, pekerjaan, pendidikan, sampai hal-hal terkait kesukuan. Secara administratif, Kampung Tablasupa terletak di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, dengan luas wilayah 31,21 kilometerpersegi. Saat artikel ini ditulis, Kampung Tablasupa dipimpin oleh seorang laki-laki bernama Maurits Serontou.Akomodasi jalan ke Tablasupa telah ada, meskipun kondisinya pada beberapa titik masih memprihatinkan. Fasilitas listrik pun telah tersedia, meskipun belum semua keluarga dapat menikmatinya. Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah belum semua rumah warga memiliki MCK. Sementara toilet umum hanya tersedia satu unit saja. Dalam hal kertersediaan air bersih, masyarakat mengandalkan sumber-sumber mata air dari Cycloop. Hal ini telah berlangsung sejak zaman nenek moyang. Penduduk membangun sendiri saluran pipa-pipa, yang menandakan mereka adalah masyarakat yang mandiri.

Image removed.

Menurut salah satu mama (panggilan untuk ibu-ibu di Papua), keadaan sungai-sungai yang mengalir dari ketinggian Cycloop hingga ke muara belum mengalami perubahan. Alirannya tetap deras dan airnya sangat jernih. Sejak zaman mereka kecil hingga sekarang sudah beranak-pinak, keadaan sungai-sungai di sekitar Tablasupa tetap stabil. Dari situlah kebutuhan air bersih masyarakat Tablasupa dan sekitarnya dapat terpenuhi. 

Pada gambaran situasi itulah kelompok Kenanembey didirikan. Pola yang digunakan adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat secara partisipatif.Proses pembentukan kelompok ini dengan menghadirkan unsur tiga tungku (tokoh pemerintahan, adat dan gereja). Proses ini juga menghadirkan dari unsur pemerintahan distrik, bhabinkamtibmas dan babinsa. Pendekatan utama dalam kegiatan pemberdayaan ini adalah bahwa masyarakat tidak dijadikan objek dari berbagai program perencanaan yang akan dilakukan, tetapi merupakan subjek dari upaya program itu sendiri. Pendekatan yang pendamping arahkan dalam bentuk, sebagai berikut; pertama, upaya itu harus terarah (targetted), Kedua, program ini harus langsung mengikutsertakan atau bahkan dilaksanakan oleh masyarakat yang menjadi sasaran, ketiga, menggunakan pendekatan kelompok dalam hal memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.

Di aras masyarakat akar rumput (masyarakat miskin) pendekatan masyarakat dapat dirangkum menjadi tiga daur hidup, yang disebut Tridaya, yaitu:

  1. Daur hidup pengembangan sumber daya manusia;
  2. Daur hidup pengembangan usaha produktif; dan
  3. Daur hidup kelembagaan kelompok .

Sampai saat ini masyarakat yang tergabung di Kena Nembey, khususnya kelompok makanan olahan sagu dan ikan telah berhasil memproduksi secara berkelanjutan.Awalnya mereka menghadapi kendala saat pemasaran. Namun lambat laun mereka mengatasinya dengan memasarkannya untuk anak-anak sekolah. Kue-kue kering tersebut dibungkus seperti jajanan anak-anak pada umumnya dan diberi label Kenanembey. Selain memasarkan olahan sagu dan ikan di sekolah, mereka juga memasarkannya di rumah masing-masing, dengan menunggu pembeli menghampiri. Meski belum maksimal dengan model pemasaran yang masih sangat lokal, tetapi yang terpenting semangat berdikari itu terus menyala, tak pernah mati.

Dusun Amay merupakan salah satu dusun di Kampung Tablasupa, dengan berbagai pertimbangan, memilih menjadi lokasi pengembangan ekowisata yang menjadi salah satu program desa binaan. Adapun areal yang digunakan adalah Areal Penggunaan Lain (APL) seluas 287,02 hektare, Hutan Lindung (HL) seluas 246,01 hektare, dan Hutan Produksi Konservasi (HPK) seluas 372,63 hektare. Seluruh areal tersebut telah dipotret dalam sebuah peta, yang dikeluarkan oleh tim Resort Tepera pada tahun 2018.

Pada dasarnya, ekowisata merupakan perjalanan berwisata ke berbagai tempat yang masih alami, dalam rangka melakukan konservasi atau menyelamatkan lingkungan serta meningkatkan taraf hidup penduduk lokal. Pengertian itu dicetuskan oleh TIES (The International Eco Tourism Society) tahun 1991. Demi mewujudkan prinsip-prinsip ekowisata, Tim telah melakukan berbagai analisis terkait pengembangan ekowisata di Kampung Amay, termasuk melakukan konsultasi publik pada Februari 2018.

Image removed.

Gambar. Peta Lokasi Wisata Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kab. Jayapura Provinsi Papua Kampung Amay memiliki empat jenis potensi wisata yang sangat mungkin dikembangkan menjadi wisata alam terlengkap di Tanah Tabi, yakni:wisata umum (bahari, sejarah, dan budaya), wisata minat khusus, wisata tirta dan wisata edukasi dan konservasi.

Begitu juga dengan produksi replika/imitasi cenderawasih. Program ini bermuasal dengan keadaan alam yang sangat natural dimana Kampung Tablasupa merupakan satu penggalan surga yang tercecer di Tanah Papua. Tak dapat disangkal, wilayah ini memiliki segalanya: hutan, gunung, dan laut. Dari dalam hutan dan gunung mengalir sungai-sungai dengan potensi air yang masih alami dan bersih, termasuk burung-burung cenderawasih yang ada di dalamnya.

Image removed.

Berabad-abad menjadi komoditas unggulan dalam perdagangan antarbenua membuat populasi cenderawasih di Papua mengalami kemerosotan tajam di waktu-waktu belakangan. Menyikapi hal ini, Gubernur Papua menerbitkan Surat Edaran bernomor 660.1/6501/SET tentang larangan penggunaan burung cenderawasih asli sebagai aksesoris dan cinderamata. Surat Edaran Gubernur Papua kemudian dikuatkan dengan Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Nomor: SE.4/Menlhk/KSDAE/KSA.2/5/ 2018 tentang upaya pelestarian burung cenderawasih (Paradiseae spp) sebagai satwa dilindungi undang-undang.Inilah yang melatarbelakangi pembuatan replika cenderawasih leh Kelompok Kenanembey, ingin tetap menampilkan si burung surga dari Papua, dengan tanpa mengganggu keberadaan mereka di alam.

Masyarakat memanfaatkannya untuk segala kebutuhan hidup, termasuk sumber air minum juga berasal dari sungai-sungai tersebut. Kekayaan keanekaragaman hayati, flora dan fauna eksotis khas Papua juga menjadi kekayaan tersendiri, yang dapat menjadi laboratorium bagi para peneliti, juga menjadi hiburan bagi para wisatawan. Sementara di dalam teluk dan samudera yang menghampar di hadapan kampung-kampung di Resort Tepera, menjanjikan kekayaan alam dan sejumlah potensi sumber daya yang nyaris tak terkira.

Budaya yang Ramah Alam

Daya tarik lainnya adalah kebudayaan masyarakat di Kampung Tablasupa yang masih sangat kental. Mereka masih sangat patuh kepada berbagai aturan adat, meskipun telah terjadi perjumpaan dengan budaya dari luar. Berdasarkan pengalaman selama berinteraksi dengan masyarakat di Kampung Tablasupa, mereka adalah sekelompok masyarakat yang sangat santun terhadap alam. Kearifan lokal yang diwariskan oleh nenek moyang sangat erat terkait dengan tata cara atau perilaku melestarikan alam. Masyarakat pada salah satu kampung di Resort Tepera ini telah memiliki pengetahuan tentang tata ruang, mulai dari gunung, hutan, hingga laut, berdasarkan fungsinya sebagai penunjang kehidupan secara berkelanjutan.

Kamis, 7 Juni 2018 kami bertemu para mama Kelompok Kena Nembey. Tampak sorot waspada di mata mereka, atau mungkin kehati-hatian dan khawatir salah bicara, saat kami mencoba bertanya halihwal Cycloop. Pernyataan pertama yang mereka ungkap tentang Cycloop adalah mengenai sakralitasnya. “Cycloop ini keramat. Jadi tidak bisa kita jalan naik ke puncaknya. Seperti mendaki, secara adat itu tidak boleh. Jadi kita harus kembali kepada adat. Cycloop ini harus tetap begini. Karena dari dulunya sudah seperti ini,” demikian kata MamaLea Okoseray yang disepakati oleh rekan-rekannya.

Ketika mulai menelisik hal-hal terkait mitologi, para mama itu pun saling pandang, seperti saling bertanya, siapa di antara mereka yang akan menceritakannya. Akhirnya MamaOrpa Kisiwaitou memulainya, “Kita ceritakan ini saja. Nanti kalau ada sempat ketemu orang yang berkuasa baru bisa minta cerita lebih lagi. Jadi sekarang ini cerita secara garis besarnya saja.” Di sinilah letak nilai-nilai adat dijaga. Penghormatan terhadap warisan budaya leluhur diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, menjadi identitas dan ciri khas.

Garis besar mitologi Cycloop yang mereka tuturkan adalah mengenai tiga bersaudara, dua laki-laki dan satu perempuan. Mereka adalah Depon Way, Kimani Way, dan Waumen. Suatu hari terjadi perselisihan antara Depon Way dan Kimani Way. Penyebabnya adalah sumber mata air yang dibuat keruh oleh salah satu dari keduanya. Padahal mata air itu sumber kehidupan mereka, tempat mengambil air minum, mandi, dan sebagainya. Alhasil, Kimani Way meninggalkan Puncak Cycloop menuju Sarmi. Hingga saat ini dipercaya, puncak tertinggi Cycloop yang terlihat dari Kampung Tablasupa adalah tempat Depon Way bersemayam, sedangkan puncak yang lebih rendah adalah tempat Waumen, sang adik perempuan.

Melihat sekilas cerita mitologi tersebut, ketika perselisihan besar terjadi karena mata air yang dibuat keruh, kita dapat membayangkan betapa berhati-hatinya sang Depon Way menjaga alam, yang direpresentasikan melalui sumber mata air. Siapa pun yang merusak, hukumannya sangat berat. Sikap menjaga, memanfaatkan, sekaligus melestarikan telah tertanam di dalam mitologi tersebut.

Wajar dan memang demikianlah seharusnya, masyarakat di Kampung Tablasupa ini menjaga Cycloop beserta segala yang terhubung dengannya. Seperti umumnya masyarakat adat yang berdiam di sepanjang Cycloop, masyarakat disana memandang Cycloop sebagai amay, yaitu ibu. Masyarakat di Kampung Tablasupa menyatakan, siapa pun yang datang ke Cycloop dengan niat tidak baik, ingin mengambil sesuatu darinya tanpa persetujuan adat, dan sebagainya pasti akibatnya langsung dapat dirasan oleh pelaku. Bisa jadi orang tersebut sakit, atau lebih dari itu. Alam memiliki hukum, dan Cycloop pasti menghukum orang-orang jahat yang tidak bertanggung jawab. Sebaliknya, bila seseorang datang ke Cycloop dengan niat baik, pasti alam semesta akan mendukung dan melindungi.

Hal lain sebagai bukti bagaimana masyarakat begitu menjunjung tinggi kelestarian budaya dan alam adalah ketika kita melihat cara masyarakat di Resort Tepera ini berkesenian. Tarian, pahatan, dan ukiran adalah bagian dari kesenian yang dijaga nilai-nilainya oleh masyarakat di Resort Tepera.  “Dulu, tidak sembarang tifa dikasih keluar kemudian ditabuh. Kalau ada acara penting saja tifa ditabuh, baru ada yang menari,” kata MamaHortenci Apaseray“Kalau makna tarian itu tergantung penciptanya. Macam seorang pelatih tari membuat gerakan, nanti dia saja yang bisa kasih penjelasan maksud gerakan tariannya, begitu,” lanjut sang mama. Sampai di sini, kita mendapati masyarakat di Resort Tepera, khususnya Kampung Tablasupa seperti menyimpan banyak teka-teki. Mereka memiliki sangat banyak rahasia. Namun justru di sinilah daya tarik mereka. Apakah kita bersepakat, bahwa semakin misteri suatu kelompok masyarakat, akan tampak semakin elegan mereka? Misteri selalu memicu tanda tanya dan melahirkan penasaran di benak semua orang.

Berikutnya dalam hal ukiran, kita pun akan melihat keunikan tersendiri. Masyarakat di Kampung Tablasupa memanfaatkan kayu-kayu yang hanyut di laut dan menepi ke pantai atau pohon-pohon tumbang sebagai bahan baku. Sedapat mungkin mereka tidak menebang pohon untuk keperluan memahat dan mengukir. Mengenai tema, masyarakat di Kampung Tablasupa masih dominan membuat karyanya dengan ornamen perahu dan tifa. Kembali kita akan mendapati nilai-nilai yang bersifat menjaga dari masyarakat kampung Tablasupa. Dalam hal pahat dan ukir, bahkan sejak bahan yang digunakan telah mencerminkan sikap itu, sekaligus mempertahankan jati diri sebagai masyarakat elegan yang bernilai seni. 

Apabila kita melihat cara masyarakat di Kampung Tablasupa dalam hal mencari penghidupan. Di sana terdapat  tiga suku besar, yaitu Demena, Apaseray, dan Serontouw. Suku Demena dan Apaseray merupakan kelompok masyarakat yang menggantungkan hidup di darat. Mereka bercocok tanam dan berburu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sementara Suku Serontouw merupakan kelompok masyarakat yang menggantungkan hidup kepada laut. Dahulu mereka melakukan transaksi berbentuk barter antara suku darat dan laut. Semua tata cara hidup telah diatur dalam kesepakatan taktertulis, melalui semacam konvensi adat. Mereka menaati konvensi itu, menjadikannya sebagai nilai sakral, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Tiga Tungku

Image removed.

Tiga tungku merupakan bentuk pemerintahan kampung yang mengintegrasikan tiga unsur yaitu unsur pemerintahan, adat dan agama.Bentuk pemerintahan tiga tungku merupakan bentuk pemerintahan kampung yang ideal bagi masyarakat Papua dan Kota Jayapura khususnya.Masing-masing unsur memiliki fungsi dan peran yang berbeda yang dibutuhkan oleh masyarakat kampung.Fungsi pemerintahan mengatur sistem administrasi pemerintahan dan pembangunan kampung agar berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku.Unsur adat memelihara nilai-nilai budaya yang berkembang dimasyarakat kmapung.Unsur agama memberikan pemahaman tentang kerohanian bagi masyarakat kampung.Pengintegrasian ketiga unsur yang dinamakan tiga tungku diharapkan dapat memberikan stimuli bagi kemajuan masyarakat kampung.

Tiga Tungku merupakan salah satu gaya kepemimpinan di wilayah Papua. Peranan hubungan dan pengaruh tingkat interaksi antara tokoh pemerintah, tokoh adat dan tokoh agama sebagai faktor determinan yang terkadang dianggap bersifat kreatif. Konsep ini sangat mendukung gaya kepemimpinan dalam sebuah kegiatan atau program, termasuk program pemberdayaan masyarakat desa binaan di Kampung Tablasupa.

                Peran tiga tungku dalam bentuk pemerintahan ini hanya dapat kita temukan di wilayah Papua saja.Peran tiga tungku tidak dapat dikatakan hanya terpaku dalam masyarakat hukum adat dan hak ulayat di wilayah Papua. Hal ini dapat dilihat secara nyata dalam bentuk pemerintahan di tingkat kampung yang merupakan salah satu gaya kepemimpinan.

Bahkan menurut Boclaars (1998), tradisi masyarakat Papua dalam kehidupan sehari-hari selalu mengedepankan prinsip-prinsip kebersamaan, keselarasan dan keseimbangan antara tujuan ekonomi, pelestarian lingkungan dan budaya, estetika dan spiritual.

Sejalan dengan konsep tersebut, maka aspek-aspek penting dari komponen tiga tungku dalam rangka pemberdayaan masyarakat dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Model konsep pemerintahan. Model ini didasarkan pada konfigurasi peran tokoh pemerintah dalam mendukung gaya kepemimpinan terhadap pemberdayaan masyarakat di desa binaan. Skema ini harus sejalan antara tokoh pemerintahan dengan pendamping desa binaan serta kelompok pemberdayaan masyarakat desa binaan.Program desa binaan harus sejalan dan seimbang dengan program pemerintah kampung dalam memanfaatkan semua sumber daya yang ada agar dapat berkembang serta dapat membantu proses kemajuan kampung. Desa Binaan sejalan dengan program pemerintah kampung dalam pemberdayaan masyarakat, antara lain:
  1. bidang pemerintahan desa (pelatihan, musyawarah dalam penyusunan program-program desa, koordinasi dalam pelaksanaan program-program desa, dan peningkatan kualitas)
  2. bidang kelembagaan (pelatihan, penyelenggaraan kegiatan, dan peningkatan sarana/prasarana)
  3. bidang ekonomi (BUMKam, kelompok tani, pasar serta penunjang ekonomi masyarakat);
  4. bidang teknologi (pelatihan, pengembangan teknologi, dan penggunaan teknologi dalam proses kerja dan kehidupan masyarakat);

Desa Binaan Kena Nembey mendapat dukungan penuh dari pemerintah kampung Tablasupa.Kepala Kampung pada saat itu dipimpin oleh seorang perempuan bernama Salonika Kisiwaitou. Mama memasukkan  program desa binaan dalam bidang pemerintahan, kelembagaan, ekonomi dan teknologi. Di bidang pemerintahan program desa binaan di danai dalam peningkatan kualitas pembuatan kue, pembuatan abon, pembuatan souvenir.Pada bidang kelembagaan hasil olahan dan produk desa binaan dijadikan sebagai olahan utama pada pameran Festival Tanah Merah untuk setiap tahunnya dalam penyelengaraan kegiatan.Pada bidang ekonomi semua olahan dan produk desa binaan yang sudah dilakukan pemeriksaan dari segi kesehatan dan pasar masuk dalam komponen BUMKam.Selain itu, pada bidang teknologi program desa binaan melakukan pengembangan dan penggunaan teknologi pada promosi dan informasi untuk pengembangan wisata alam minat khusus dalam hal ini adalah site monitoring Paradisaea minor, home stay dan lainnya.

  • Model konsep adat. Model ini memposisikan tokoh adat secara total dalam tata pemerintahan formal di kampung dengan menempatkan tokoh adat sebagai pimpinan kampung. Komposisi ini memberikan jaminan yang kuat bagi tingginya partisipasi masyarakat dalam mendukung jalannya pemerintahan dan suksesnya sebuah program, termasuk pemberdayaan masyarakat di desa binaan. Skema ini harus sejalan antara tokoh adat (ondoafi/ keret) dengan pendamping desa binaan serta kelompok pemberdayaan masyarakat desa binaan.

Burns D. (2000), tokoh adat memiliki beberapa peranan penting dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang akan menunjang program desa binaan, antara lain:

  1. untuk mencabut akar segala bentuk konflik politik dari kampung;
  2. menghapus segmentasi masyarakat kampung yang bersumber dari pengelompokna politik dari kehidupan masyarakat kampung;
  3. menyelaraskan satu aturan berkenaan dengan mengatur, mengurus, memelihara dan menjaga keamanan;
  4. menetapkan aturan menurut kampung sesuai dengan adat yang berlaku.

Desa binaan Kena Nembey mendapat dukungan penuh dari tokoh adat (ondoafi/ keret) di Kampung Tablasupa. Seperti, Penyelesaian masalah dalam pembangunan jalur tracking, home stay, Jembatan, pondok pengamatan, menara pengamatan aves dan lainnya karena berada di wilayah hak ulayat. Penyelesaian masalah ini ditempuh melalui konsultasi musyawarah adat yang mendatangkan para tokoh adat, Balai Besar KSDA Papua, pemilik hak ulayat, Dinas Kehutanan Provinsi Papua, Pemerintah Distrik Depapre, Polsek Depapre, Koramil X Depapre dan masyarakat Tablasupa. Hal ini kita lakukan bahwasanya tujuan pembangunan semata-mata untuk menambah kesehjateraan masyarakat tanpa mengubah adat budaya dan tempat sakral di wilayah tersebut.

  • Model konsep agama. Tokoh agama lebih berperan sebagai mediator antara tokoh pemerintah dan tokoh adat. Dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, tokoh agama, pendamping desa binaan serta kelompok pemberdayaan masyarakat desa binaan harus bisa berjalan beriringan, Tokoh agama memberikan pandangan dengan esensi keagamaan tentang program desa binaan dalam rangka pemberdayaan masyarakat kepada masyarakat untuk bekerja dengan tulus ikhlas dan sepenuh hati yang telah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, kondisi sosial budayasetempat, potensi sumber daya alam dan kebijakan pemerintah kampung.Desa Binaan selalu mengikutsertakan para tokoh gereja, baik pendeta dan majelis serta para pemuda/i gereja untuk ikut dalam pembahasan program dan evaluasi desa binaan.Saya selaku pendamping selalu menegaskan kepada kelompok desa binaan untuk selalu memberikan perpuluhan kepada gereja ketika mendapatkan keuntungan dari penjualan produk dan olahan desa binaan dan setiap menjelang hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun untuk ikut berperan aktif dan memberikan bantuan dan donasi sebagai rasa syukur dan berkat yang diterima oleh desa binaan.

Konsep tiga tungku ini didasarkan pada konfigurasi visi dan misi dengan batas-batas kewenangan antara tokoh pemerintah dan perangkatnya, tokoh adat dan tokoh agama. Dengan demikian, afiliasinya menjadi jelas terarah pada kepentingan masyarakat kampung. Hal ini sejalan dengan apa yang kami lakukan di Kelompok Kenanembey di Kampung Tablasupa.Kami harus menjalin hubungan baik dengan dengan ketiga unsur tersebut demi kelancaran tugas kami merangkul dan membina masyarakat kampung tersebut.

Metode pemberdayaan di dalam sebuah kelompok desa binaan yang dilaksanakandi tingkat tapak/ resort tidak harus kaku/ rigid sesuai petunjuk teknis pemberdayaan di daerah penyangga. Kita tetap menyesuaikan sesuai kearifan lokal tanpa menihilkan peran dari instrument pemberdayaan tersebut.Yang dapat kami tangkap dari pengertian tersebut adalah bahwa pemberdayaan masyarakat desa binaan menunjukkan adanya sebuah "proses" dalam diri pendamping dan kelompok. Proses untuk menjadi berdaya yang lebih baik dan bermartabat dari sebelumnya.Maka dari itu kami merasa bahwa untuk menilai sebuah keberhasilan pemberdayaan masyarakat, tidak perlu melihat dari seberapa banyak anggota dan hasil produk yang mereka hasilkan. Namun penilaian yang sesungguhnya terlihat dari proses yang telah kelompok lakukan sejak mereka mendapatkan pemberdayaan tersebut.

               

Image removed.

Para tokoh konservasi di Kampung Tablasupa dalam hal pemberdayaan masyarakat desa binaan Kena Nembey yang berada di balik layar keberhasilan desa binaan meraih penghargaan Juara Pertama Desa Binaan Konservasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2019 yang diserahkan oleh Menteri LHK, Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc dan Piagam Apresiasi Terbaik Pertama Desa Binaan Konservasi dari Direktorat Jenderal KSDAE yang diserahkan oleh Dirjen KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc Tahun 2019 di TWA Muka Kuning, Batam.

Para Tokoh Konservasi di Kampung Tablasupa

  1. Alm. Obaja Apaseray, merupakan sosok ondoafi besar yang memiliki kontribusi luar biasa untuk tim Resort Tepera. Statemen paling terkenal dari beliau yang selalu dikenang oleh tim resort adalah, “Maju terus sampai dapat usir. Kalau mundur, pulang saja dari kampung ini.”
  2. Alm. Fredrik Somisu, sosok yang demikian gigih menjaga populasi cenderawasih, meski dulu ia seorang pemburu. Fredrik memperjuangkan larangan penggunaan senjata api untuk berburu di dalam peraturan kampung. Ia dinobatkan sebagai pejuang konservasi oleh UPT KLHK Papua pada Hari Bhakti Rimbawan, Mei 2018 dan Peraih Local Champhion Tahun 2020 di Acara HKAN Taman Nasional Kutai.
  3. Silas Demetouw, seorang aktivis konservasi dari Kampung Tablasupa. Silas pernah menjabat sebagai sekretaris KPA Amemay selama tiga tahun sejak 2013. Kemudian ia diangkat menjadi ketua MMP Tepera Yewena Yosu tahun 2018. Pengabdiannya terhadap pelestarian alam adalah sesuatu yang takterbantahkan.
  4. Lukas Oyaitou, mantan Kepala Kampung Tablasupa, yang saat ini menjabat sebagai ketua KPA Amemay periode kedua. Lukas juga seorang ASN di Kantor Distrik Depapre. Lukas merupakan tameng bagi tim Resort Tepera bila terjadi persoalan pelik atau mendapat pertentangan dari waarga kampung. 
  5. Salonika Kisiwaitou, kepala Kampung Tablasupa tahun 2018. Peranannya dalam dunia konservasi tak perlu diragukan lagi. Salah satu yang dilakukannya adalah menyediakan biaya operasional kegiatan Desa Binaan Kena Nembey dan KPA Amemay dalam anggaran kampung. Dengan sikap terbuka, Salonika Kisiwaitou menunjukkan dukungannya terhadap program-program Resort Tepera.  

“nec laudibus nec timore”

merupakan dharma pemberdayaan desa binaan kenanembey.

Lampiran program kerja pengembangan wisata alam

Image removed.

Gambar. Pondok Kerja

Image removed.

                                  Gambar. Jalur Tracking

Image removed.

Gambar Home Stay

Gambar Menara Pengamatan Aves

Image removed.

Gambar Gazebo

Image removed.

Gambar Olahan Produk Kue yang berbahan utama adalah Sagu

Image removed.
  • rica store

Berita Terkini