DPRD Provinsi Bengkulu Canangkan Solusi Inovatif Atasi Sampah
Bengkulu - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bengkulu mencanangkan solusi inovatif, dalam mengatasi persoalan sampah yang semakin mendesak di Provinsi Bengkulu.
Bahkan solusi inovatif tersebut disertai dengn pengalokasian anggaran sebesar Rp 1,5 miliar untuk membangun Rumah Maggot pada Tahun Anggaran (TA) 2026, yang diharapkan menjadi terobosan dalam menangani limbah organik sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat.
Wakil Ketua I DPRD Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain, SE menegaskan komitmen tersebut, lantaran tidak bisa dipungkiri, saat ini keberadaan sampah menjadi salah satu problem bagi masyarakat kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu.
"Problem ini tentunya harus diatasi sesegera mungkin, sehingga dapat teratasi,” tegas Teuku.
Selama ini, upaya penanganan sampah yang dilakukan Pemprov Bengkulu difokuskan pada penyediaan sarana, seperti penghibahan kontainer sampah dan mobil pengangkutnya. Ke depan, juga diusulkan penambahan alat berat untuk operasional di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
"Namun pendekatan infrastruktur saja tidak cukup. Maka dari itu, kami juga menyertai dengan program yang lebih berkelanjutan dan berbasis pemberdayaan. Salah satunya adalah pembangunan Rumah Maggot,” ujar Teuku.
Menurutnya, anggaran sebesar Rp 1,5 miliar telah disiapkan di Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Bengkulu. Fasilitas yang dibangun nantinya tidak hanya menjadi pusat budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF).
"Tetapi juga sebagai unit pengelolaan sampah organik skala besar. Rumah Maggot ini ditargetkan mampu memproduksi maggot hingga 6 ton per hari,” jelas Teuku, Jum'at (12/12/2025).
Teuku menjelaskan, pencapaian target produksi tersebut memiliki implikasi signifikan terhadap pengurangan sampah. Untuk menghasilkan 6 ton maggot, dibutuhkan sekitar 30 ton sampah organik setiap harinya.
"Artinya, fasilitas ini berpotensi mengalihkan puluhan ton sampah organik dari alur menuju TPA, sehingga memperpanjang usia landfill dan mengurangi beban lingkungan," terangnya.
Lebih dari sekadar solusi waste management, inovasi ini juga memiliki dimensi ekonomi yang kuat. Maggot sendiri memiliki nilai ekonomis tinggi karena merupakan sumber pakan ternak, ikan, dan unggas yang kaya protein.

"Sisa metabolisme dari budidaya maggot juga dapat diolah menjadi pupuk organik (kasgot) yang berkualitas,” tambah Teuku.
Sehingga juga dapat tercipta siklus ekonomi sirkular dari sampah menjadi komoditas bernilai. Lokasi pembangunan Rumah Maggot recananya berada di lahan milik Pemprov Bengkulu di kawasan Taba Penanjung.
"Lokasi ini dinilai strategis untuk menjadi pusat pengumpulan dan pengolahan sampah organik dari berbagai kabupaten/kota di sekitar. Sampah organik dari sejumlah wilayah bisa disuplai ke sini. Ini akan menjadi model pengelolaan terpadu,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Teuku mengatakan, keberhasilan program ini diharapkan dapat mereplikasi model serupa di kabupaten/kota lainnya. DPRD Bengkulu mendorong kolaborasi antar-dinas dan pelibatan kelompok masyarakat untuk memastikan sustainability program.
"Dengan pendekatan yang komprehensif, mulai dari hulu hingga hilir, Rumah Maggot diharapkan tidak hanya menjawab keresahan warga soal sampah, tetapi juga membuka peluang usaha dan ketahanan pakan mandiri di Provinsi Bengkulu," singkatnya. (adv)
Penulis: Oki || Editor: Yusuf M.
