Skip to main content

Sempat Viral Tidur Bersama Ayam, Kini Rumah Pandi Dibangun

Ground Breaking program bedah rumah milik Pandi, warga Jalan Penantian RT 10 RW 05, Kelurahan Pematang Gubernur, Jumat, 16 Januari 2026.
Ground Breaking program bedah rumah milik Pandi, warga Jalan Penantian RT 10 RW 05, Kelurahan Pematang Gubernur, Jumat, 16 Januari 2026.

KOTA BENGKULU - Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu bersama Polda Bengkulu dan DPD Real Estate Indonesia (REI) Bengkulu melaksanakan Ground Breaking program bedah rumah milik Pandi, warga Jalan Penantian RT 10 RW 05, Kelurahan Pematang Gubernur, Jumat, 16 Januari 2026.

Kapolda Bengkulu Irjen. Pol Mardiyono, S.IK., M.Si. mengatakan bantuan diberikan karena kondisi Pandi yang tidak dapat berjalan serta harus menghidupi dua orang putrinya yang masih membutuhkan perhatian dan perlindungan.

“Alhamdulillah hari ini kita memberikan bantuan kepada Pak Pandi. Beliau tidak bisa berjalan dan memiliki dua orang putri yang perlu mendapat perhatian dari kita semua,” ujar Kapolda.

Selama ini, Pandi tinggal di rumah sewa dengan kondisi tidak layak huni. Bahkan, di bagian belakang rumah terdapat kandang ayam. 

Dijelaskan Kapolda, dia mendapatkan Informasi tersebut pertama kali diterima Kapolda dari Wali Kota Bengkulu, kemudian langsung dibahas bersama Ketua DPD REI Bengkulu.

Untuk pembangunan fisik rumah, Polda Bengkulu akan mengerjakannya secara gotong royong melibatkan seluruh personel.

“Pembangunan rumahnya akan dilakukan oleh jajaran Polda Bengkulu. Insya Allah selesai sekitar satu bulan,” tambah Kapolda.

Sementara itu, Pemkot Bengkulu akan melengkapi rumah tersebut dengan perabotan dan kebutuhan dasar agar bisa langsung ditempati.

“Untuk isi rumah nanti dibantu Pemkot. Jadi kami benar-benar bersinergi membantu Pak Pandi,” tutupnya.

Wali Kota Bengkulu, Dr. Dedy Wahyudi menceritakan awal mula dirinya mengetahui kondisi keluarga Pandi saat hendak mengantarkan bantuan kursi roda. 

Namun laporan dari Dinas Sosial tentang adanya “rumah dengan kondisi ekstrem” membawanya ke hunian yang sangat memprihatinkan.

“Saya masuk, bapaknya terbaring di ruang tengah, di sampingnya ada kotak ayam. Baunya menyengat, rumahnya sangat kotor. Saya merasa berdosa ada warga yang hidup seperti ini di tengah kota kita,” ungkap Dedy.

Di dalam rumah tersebut, Dedy juga menemukan Tika (14), putri Pandi, yang sudah lama putus sekolah dan mengalami trauma berat akibat perundungan di sekolah.

Merespons hal itu, Dedy langsung menginstruksikan jajaran pendidikan agar lebih aktif memantau siswa.

“Saya minta kepala sekolah, kalau ada anak tidak masuk dua hari, tolong dicek rumahnya. Kalau putus sekolah karena bullying, segera lapor ke Dinas Pendidikan Kota Bengkulu,” tegasnya.

Karena status tanah rumah lama bukan milik pribadi, renovasi tidak memungkinkan dilakukan.

Dedy pun menghubungi mitra strategis untuk solusi permanen. 

  • penarafflesia.com

Berita Terkini