Berita Terkini
Semenjak dilanda pandemi covid-19, semua aktivitas dibatasi mulai dari proses belajar mengajar, kegiatan keagamaan dan kegiatan sosial lainnya yang mengakibatkan terjadinya kerumunan. Wabah ini menjadi perhatian serius bukan hanya sekedar di negara asalnya (Wuhan-China) tapi sudah menjadi keseriusan bagi seluruh negara-negara internasional.
Awal bergemingnya Pandemi ini diakhir tahun 2019 lalu sehingga tahun kejadian wabah ini disematkan kedalam Corona Virus Disease 2019 atau yang disingkat menjadi Covid-19, Negara Indonesia sendiri masih tenang-tenang saja setelah mendengar kabar terjadinya wabah yang banyak memakan korban di Wuhan-China dan tidak benar-benar serius tanggap terhadap bencana non-alam ini.
Tanpa antisipasi, akhirnya wabah ini benar-benar merambah ke Indonesia pada tahun 2020 tepatnya 2 Maret, dan yang pertama terpapar virus ini adalah ibu dan anak asal Depok. Dibulan berikutnya kasus positif mencapai 300-an perhari. Dibulan Juli kasus positif mencapai 1000 kasus perhari bahkan ada yang menyetuh angka 5000 kasus perhari. Setelah delapan bulan dikonfirmasi adanya pandemi di Indonesia akhirnya terjadi lonjakan kasus positif pada bulan November 2020 seperti yang dirilis Kemenkes terdapat sebanyak 502.110 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19.
Di provinsi Bengkulu sendiri, seperti yang dirilis Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu per 14 November 2021 terdapat 23.105 jiwa yang terkonfirmasi positif. Paparan oleh wabah ini menjadikan setiap masjid sepi, sekolahan hanya ada beberapa guru saja yang piket saja dan para siswa belajar dirumah (Daring). Sungguh dahsyat wabah ini hingga mampu menggoncangkan Perekonomian dan Pendidikan Nasional.
Terhitung sejak bulan Mei 2020 hingga bulan Oktober 2021 para peserta didik belajar dari rumah. Tidak semuanya, ada sebagian dari mereka yang tidak mempunyai gawai hingga harus meminjami gawai tetangga dan sebagiannya lagi menumpang pada teman sekelasnya agar dapat mengikuti mata pelajaran dari sekolah. Tak sampai disitu saja, ada beberapa dari mereka tidak dapat mengikuti pelajaran sebab tidak mempunyai gawai pada akhirnya memaksa para orangtua untuk membelikan anaknya gawai dengan kondisi ekonomi yang pasang surut dan bahkan ada dari mereka yang ak memiliki pendapatan yang jelas kadang untuk makan saja mereka kekurangan.
Ternyata, hal itu belum terselesaikan. Setelah mempunyai gawai mereka kewalahan harus membeli kuota internet dalam setiap bulannya bahkan ada yang mingguan. Untuk mengantisipasi hal itu pemerintah melalui Kemendikbud mengadakan kebijakan bantuan kuota data internet gratis untuk para peserta didik, namun sayangnya hal itu tak bisa didapatkan selain masih gagap teknologi para orangtua juga kurang informasi bagaimana cara untuk mendaftar dan mendapatkan kuota belajar tersebut.
Karena kurangnya pengawasan orangtua dalam proses belajar-mengajar secara daring akhirnya terjadi penyimpangan-penyimpangan, kuota dan gawai yang seharusnya diperuntukan untuk belajar malah dipergunakan untuk hal-hal lain seperti bermain game online.
Permainan game online, termasuk higgs domino baru-baru ini menjadi salah satu faktor yang bisa menggangu sistem belajar anak. Banyak dari mereka terlena dengan keasyikan game ini, selain mengasyikkan game ini mampu menghasilkan uang hingga akhirnya menjadi candu bagi para peserta didik, bukan hanya itu saja game online juga membius usia remaja hingga orang dewasa.
Seperti yang ditulis dilaman berita Penarafflesia.com yang berjudul Jadi Candu, Game Online Ancam Masa Depan Bangsa. Kepala Dinas Pendidikan Kota Bengkulu mengatakan “Untuk higgs domino itu, ada unsur-unsur yang menimbulkan kecanduan dari siswa. Kadang-kadang sampai ke orangtua. Kalau diperhatikan ini hampir disetiap sudut-sudut yang bermain HP, anak-anak kita itu pasti main higgs domino. Seperti yang kita tau, domino sendiri ini bermain secara ‘dominasi’, siapa yang banyak mendominasi dialah yang menjadi pemenangnya. Tetapi, karena kita bermainnya melawan mesin, teori peluangnya tentu saja mesin. Kalau mesin menang, lantas siapa yang bandar? Tentu saja yang memiliki aplikasi tersebut, hal inilah yang membuat kecanduan,” ungkap Sehmi, Kepala Disdik Kota Bengkulu.
Candu yang ditinggalkan oleh game online bisa meredupkan dunia pendidikan, selain itu juga bisa menimbulkan kemalasan serta sifat yang berlebihan dari para gamers ini. untuk menghasilkan chip sebagian dari gamers ini harus mengeruk isi kantong terlebih dulu agar bisa bermain dengan maksimal dengan modal chip yang cukup besar. Namun ada dampak lainnya, seperti yang penulis temui dilapangan karena terlalu lama belajar dari rumah (daring) ada sebagian dari mereka tidak ingin kembali ke bangku sekolahnya karena terlalu asyik dirumah dan bermain gawai bersama temannya.
Dari kejadian wabah ini hendaknya kita bisa lebih melek terhadap hal-hal yang kita anggap tidak mungkin terjadi namun sangat bisa menghampiri dan membahayakan diri sendiri terlebih orang banyak, sebab Kesehatan, Kesejahteraan dan Pendidikan adalah cita-cita luhur bangsa yang tertuang didalam UUD 1945.
Penulis : Anasril