Berita Terkini
Bengkulu - Menyikapi keresahan masyarakat akibat maraknya aksi tawuran pemuda dan pembakaran sepeda motor yang viral di media sosial, Pemerintah Kota Bengkulu mengambil langkah tegas dan terukur demi menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban.
Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, resmi memberlakukan Jam Malam bagi Pelajar sebagai bagian dari upaya preventif untuk melindungi generasi muda sekaligus memulihkan rasa aman warga.
Kebijakan ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor bersama Rahmad Hidayat dan Condro Edi Wibowo, yang disepakati dalam rapat koordinasi Forkopimda bersama jajaran OPD, camat, dan lurah se-Kota Bengkulu.
Mulai Senin mendatang, seluruh pelajar di Kota Bengkulu dilarang beraktivitas di luar rumah setelah pukul 22.00 WIB.
“Kami masih memberi ruang hingga pukul 21.00 WIB untuk kegiatan belajar kelompok. Namun di atas jam 22.00, tidak boleh ada lagi pelajar berkeliaran. Ini demi keselamatan anak-anak kita agar tidak terjerumus ke tindakan yang merugikan masa depan mereka,” tegas Dedy Wahyudi.
Meski secara statistik angka kriminalitas dilaporkan menurun, Wali Kota menilai muncul fenomena psikologi kecemasan di tengah masyarakat. Banyaknya laporan dan aduan warga melalui pesan singkat menunjukkan rasa tidak aman, khususnya pada malam hari dan saat pelaksanaan ibadah Tarawih.
“Yang harus kita lawan bukan hanya kejahatan, tetapi juga rasa takut masyarakat. Psikologi kecemasan ini harus kita putus dengan kehadiran negara di tengah warga,” ujarnya.
Untuk memastikan kebijakan berjalan efektif dan humanis, Pemkot Bengkulu menyiapkan sejumlah langkah konkret:
-Penguatan patroli terpadu antara lurah, camat, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Linmas, dan aparat wilayah.
-Reaktivasi Pos Kamling di setiap RT sebagai basis keamanan lingkungan.
-Pendekatan berbasis tokoh masyarakat, dengan melibatkan tokoh adat, tokoh pemuda, dan pemuka agama sebagai penyejuk sosial.
-Koordinasi dengan Satpol PP Provinsi Bengkulu untuk pengawasan pelajar tingkat SMA yang berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi.
“Pengalaman menunjukkan, jika tokoh yang dihormati sudah turun tangan, situasi biasanya kondusif tanpa gesekan. Kita ingin penertiban yang persuasif, bukan represif,” jelas Dedy.
Sebagai langkah pemulihan kepercayaan publik, Forkopimda juga merencanakan kegiatan “Ngopi Bareng” dan “Buka Puasa Bersama” di wilayah-wilayah yang dinilai rawan, guna mempererat komunikasi antara aparat dan masyarakat.
Dengan kombinasi penegakan aturan, pendekatan sosial, dan kolaborasi lintas elemen, Pemerintah Kota Bengkulu optimistis situasi keamanan tetap terkendali, serta masyarakat dapat kembali beraktivitas dan beribadah dengan rasa aman dan nyaman. (*)