Skip to main content

Menemukan Alasan Kenapa Menulis Itu Penting

M Aufal Fresky.
M Aufal Fresky.

Eep Saifulloh Fatah, penulis dan kolumnis beken Indonesia, mengatakan bahwa menulis akan terasa mudah kalau kita tidak terlalu terikat pada aturan orang lain.

Artinya, apa yang ingin kita tulis, tulis saja. Sama dengan gaya kita menulis buku diary. Mengetahui ilmu menulis memang penting. Namun, jauh lebih penting lagi yaitu tidak menyia-nyiakan waktu untuk segera menulis. Artinya, praktik langsung akan jauh lebih berdampak terhadap perkembangan kemampuan seorang penulis. Ibarat seorang yang hendak belajar renang.

Dia harus berani untuk bersentuhan dengan air dan memulai untuk berenang dengan gaya apapun sebisanya. Percuma mengetahui seluk beluk teori tentang renang, tapi tidak pernah mencoba untuk menceburkan diri ke dalam kolam renang. Maka teori-teori yang dipelajari tersebut seakan tidak berguna. Begitu juga dengan seseorang yang hendak menulis, dia harus segera memulainya. Ambil pulpen atau nyalakan laptop, lalu mulailah mengetik sesuatu yang sedang menjadi keresahan. Atau mengetik apapun yang terlintas dalam benak.

Sebagian orang berpikiran bahwa menulis itu adalah kemampuan bakat. Sebagian lagi, berpandangan bahwa menulis adalah kemampuan yang bisa dipelajari dan dimiliki oleh siapapun yang memang benar-benar menginginkannya. Hemat saya, setiap orang yang berakal memiliki potensi yang sama untuk bisa menuliskan gagasannya. Semua hanya tergantung kemauan dalam dirinya. Sehingga bisa ditarik benang merah bahwa masing-masing dari kita sebenarnya berpeluang untuk menjadi penulis yang andal. Hanya saja, perlu diperjelas dulu apa yang mendorong kita untuk menulis. Baik menulis opini, puisi, buku, jurnal, dan semacamnya. Dorongan internal itulah yang bisa membuat masing-masing dari kita konsisten untuk menulis. Bahkan bisa menumbuhkan rasa cinta yang menggebu-gebu terhadap dunia tulis menulis. Motivasi dari dalam diri seseorang berbeda-beda. Ada menulis karena berharap eksistensinya meningkat. Ada yang menulis karena tergiur dengan honor yang diberikan.

Ada juga yang menulis karena ingin diakui sebagai intelektual atau pakar yang mumpuni di bidangnya. Bahkan ada juga yang menulis karena hanya sekadar ingin memenuhi tugas sekolah, kampus, atau instansi yang menaunginya. Silakan temui motivasi apa yang menggerakkan kita untuk menulis. Motivasi tersebut akan menjadi bahan bakar yang akan terus menggerakkan jari jemari kita untuk terus mengetik dan menghasilkan karya yang berbobot. 

Selain honor, popularitas, dan pengakuan sosial di tengah masyarakat, kita juga bisa memiliki motivasi lainnnya yaitu ingin berbagi ilmu, pengetahuan, dan pemikiran kita terkait suatu hal kepada masyarakat luas. Dengan kata lain, kita ingin berkontribusi dalam mencerahkan kehidupan masyarakat melalui ide-ide. Biasanya, orang yang memiliki motivasi semacam itu karena ingin ilmunya membawa manfaat bagi sesama. Dia ingin ikut menyumbang pemikirannya untuk membangun karakter bangsa. Oleh sebab itu, mari mulai dari sekarang temukan alasan yang kuat kenapa kita menulis. Biasanya jika sudah tertanam motivasi dalam diri, maka spirit untuk menghasilkan karya akan terus bergelora dalam jiwa kita. Lebih-lebih kita mulai mengerti dan sadar bahwa banyak manfaat yang bisa diperoleh dari aktivitas menulis. Di antaranya yaitu mempertajam daya analisis, mencegah kepikunan, akan menjadi pembelajar seumur hidup, dan lain sebagainya. 

Dalam sehari semalam kita memiliki jatah waktu yang sama yaitu 24 jam. Jika memang ingin menjadi penulis yang produktif, maka mulai dari sekarang cobalah untuk menulis. Jangan muluk-muluk atau terlalu idealis ingin menghasilkan karya yang luar biasa dalam waktu yang singkat. Percayalah, semua itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Perlu proses yang berkelanjutan dan jam terbang yang tinggi untuk menelurkan karya yang bermutu. Apalagi sebelumnya kita sama sekali belum pernah menuliskan pemikiran kita menjadi sebuah karya yang berbentuk opini, prosa, buku, jurnal, dan semacamnya.

Mulailah menulis sesuatu yang sederhana yang kita pahami. Tulislah sesuatu yang memang sedang terlintas dalam alam pikiran kita. Jika merasa kepala kita masih kosong alias tak ada ide, maka mulailah untuk menggali ide dengan memperbanyak membaca refrensi (koran, buku, jurnal, dan semacamnya). Atau cara lainnya untuk mendapatkan ide yaitu dengan diskusi dengan teman-teman sebaya. Bisa juga dengan mengamati fenomena alam atau fenomena sosial yang sedang terjadi di sekitar kita. Intinya, jangan biarkan pikiran kosong. Aktiflah menjemput ide. Jika sudah memperolehnya, segera eksekusi. Tulislah dengan gaya bahasa kita sendiri. Sebab, dengan begitu akan terasa lebih rileks dalam menulis. Semakin kita menikmati aktivitas menulis, maka rasa nyaman itu akan tertanam dalam pikiran dan hati kita. Menulis akan terasa enjoy. Menulis tidak akan menjadi beban jika kita benar-benar mencintainya. 

Oleh sebab itu, dalam tulisan ini saya tidak menyinggung teori menulis. Saya hanya ingin mengimbau Anda semua untuk menemukan maksud dan tujuan Anda menulis itu untuk apa? Kenapa Anda menulis? Sepenting apakah aktivitas menulis dalam hidup Anda? Mari jangan sia-siakan kesempatan untuk berkarya. Manfaatkan waktu seoptimal mungkin untuk berkarya. Kita warisi anak cucu kita dengan ilmu dan pengetahuan. Mudah-mudahan dengan begitu kita bisa menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi sebanyak mungkin orang melalui karya kita. 

***

Muhammad Aufal Fresky, Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi.

Tags
  • rica store

Berita Terkini