Berita Terkini
Bengkulu - Prevalensi kasus stunting pada bayi di Provinsi Bengkulu sebesar 19,8 persen, meskipun angka ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya sebesar 22,1 persen. Sayangnya, kasus ini masih dominan dialami oleh masyarakat di beberapa daerah kabupaten yang berada pada wilayah pesisir pantai sebagai penghasil ikan di daerah tersebut.
Berdasarkan studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, kabupaten Kaur memiliki angka stunting sebesar 12,4 persen, Bengkulu Selatan 23,2 persen, Kabupaten Seluma sebesar 22,2 persen, Kota Bengkulu 12,9 persen, Bengkulu Utara 22,8 persen, dan Kabupaten Mukomuko 22,3 persen. Daerah-daerah ini merupakan daerah pesisir dan mengalami peningkatan kasus stunting dari sebelumnya.
Plt Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu, Drs. Zainin, mengatakan bahwa permasalahan stunting tidak hanya disebabkan oleh satu faktor seperti kekurangan gizi.
"Ada kemungkinan bahwa penyebab stunting di daerah pesisir disebabkan oleh rendahnya pengetahuan keluarga tentang pola asuh yang sehat", katanya.
Meskipun sebagian besar wilayah Provinsi Bengkulu berada di pesisir pantai sebagai penghasil ikan, tidak dapat dikatakan bahwa daerah ini menyumbang stunting di Bengkulu yang disebabkan oleh kekurangan protein ikan. Data menunjukkan bahwa produksi perikanan terbesar berasal dari perikanan tangkap di laut, sedangkan perikanan perairan umum daratan memiliki hasil produksi yang lebih sedikit.
Untuk menurunkan kasus stunting, pemerintah Provinsi Bengkulu telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.
Peraturan ini merupakan upaya holistik, integratif, dan berkualitas melalui koordinasi, sinergi, dan sinkronisasi antara pemangku kepentingan. Peraturan ini merupakan pengganti Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi.
Dalam upaya menekan prevalensi stunting di Bengkulu, peningkatan peran tim pendamping keluarga (TPK) di Bengkulu menjadi salah satu hal penting. Ada sebanyak 1.867 tim TPK dengan anggota mencapai 5.601 orang yang tersebar di 1.514 desa. Jika peran ini dimaksimalkan, prevalensi stunting di wilayah pesisir dapat berkurang. (zul/oki)