Berita Terkini
Salah satu nikmat terbesar yang dimiliki manusia adalah waktu luang. Dengan nikmat tersebut kita bisa melakukan beragam hal yang produktif. Seperti halnya dengan menulis catatan harian.
Mungkin, bagi sebagian orang yang belum pernah mencobanya akan menganggap menulis di buku harian adalah aktivitas yang sia-sia. Tidak ada timbal balik apapun yang bisa diperoleh. Apalagi yang menjadi ukurannya adalah materi atau uang. Padahal, menulis di buku harian adalah sebuah aktivitas yang menyimpan banyak faedah. Beberapa di antaranya yaitu mencegah diri dari kepikunan, menjaga kesehatan mental, mempertajam daya ingat, melatih daya analisis, meningkatkan kecerdasan, dan tentunya masih banyak lagi.
Hemat saya, menulis di buku harian memiliki ‘daya magis’ yang luar biasa. Terutama bagi orang-orang yang hendak menekuni dunia tulis menulis. Percayalah, akan ada perbedaan cara penyampaian argumentasi atau gagasan antara orang yang biasa menulis di buku harian dan mana yang tidak. Sebab, tulisan-tulisan orang yang biasa menulis di buku harian biasanya lebih renyah, komunikatif, mengalir, dan mudah dipahami. Sebab, dia sendiri sudah biasa menuturkan isi kepalanya lewat tulisan di buku hariannya. Ketika menulis tentang tema tertentu, dia hanya butuh refrensi dan sedikit riset untuk memperkuat argumentasinya. Selebihnya akan lancer dalam menulis. Beda halnya dengan orang yang sama sekali belum pernah menulis di buku harian, biasanya agak sukar untuk memulai darimana tulisannya hendak dimulai.
Selain itu, dengan membiasakan diri menulis di buku harian, perlahan kita akan terbiasa menyampaikan segala hal yang terlintas dalam benak kepala lewat catatan. Pemikiran-pemikiran kita mengenai ekonomi, politik, sosial, budaya, agama, dan semacamnya, jauh lebih muda dituliskan dalam beragam bentuk tulisan fiksi ataupun non-fiksi sebab sebelumnya sudah terbiasa menulis dengan rutin di buku harian. Bahkan, kita sendiri, disadari atau tidak akan berkembang dengan sendirinya. Baik dari segi intelektual maupun emosional. Sebab, orang yang disiplin menulis di buku harian maka kesehatan mental dan jiwanya relatif lebih terjaga. Dalam hal ini, menulis menjadi sarana meditasi diri. Sebab, kita bisa mengeluarkan segala uneg-uneg dan keluh kesah kita dalam bentuk tulisan. Biasanya, hati dan pikiran jauh lebih plong sesuai menulis.
Selain itu, menulis di buku harian akan membuat cakrawala berpikir kita kian luas. Kita bisa kembali menuangkan ilmu, pengetahuan, dan informasi mengenai banyak hal yang kita dapatkan sebelumnya melalui buku harian. Sehingga, secara konotasi buku harian tersebut akan menjadi ‘arsip bersejarah’ yang akan menjadi pengingat perjalanan hidup kita.
Tidak hanya itu, buku harian menjadi ruang komunikasi paling intim yang dimiliki penulisnya. Kita bisa menuliskan apa saja yang kita pikirkan dan rasakan. Entah itu mengenai hobi, fenomena alam, realitas sosial, bahkan pengalaman kita sendiri di masa lalu. Menulis di buku harian menjadi lebih bebas mengekspresikan diri kita sendiri. Menjadi ruang khusus dalam mencari dan mempertegas jati kita sebagai manusia. Itu artinya, buku harian menjadi sebuah tempat tersendiri untuk melakukan refleksi diri. Kita akan lebih mengenal siapa diri kita yang sebenarnya dengan terus menuliskan apa yang selama ini menjadi kegundahan kita. Sebab, saya yakin semua manusia memiliki keresahannya masing-masing.
Tidak semua keresahannya itu mungkin bisa dibagikan ke orang lain. Sehingga buku harian menjadi semacam sarana untuk mencurahkan segala kegundahan tersebut. Kita tidak akan malu dan ragu lagi untuk menampilkan diri kita yang sebenarnya lewat buku harian. Hanya kita dan Tuhan yang tahu apa yang ada di dalamnya. Percayalah, membiasakan diri menulis di buku harian akan memperkuat karakter diri kita. Selain itu, juga bisa membuat imajinasi dan kreativitas kita semakin berkembang. Tinggal bagaimana kita mengasahnya. Terakhir, yang menjadi pertanyaan, bagaimana kita memulainya? Apalagi selama hidup belum pernah sama sekali mencobanya.
Berdasarkan pengalaman saya selama menulis di buku harian, maka saya tawarkan rumus 3K untuk membiasakan diri menulis. 3K tersebut yaitu kesadaran, kemauan, dan konsistensi. Jadi pertama kita harus sadar terlebih dahulu bahwa banyak manfaat yang akan diperoleh jika membiasakan diri menulis di buku harian. Kesadaran tersebut akan menjadi ‘bahan bakar’ yang akan terus menghidupkan spirit kita dalam menulis. Setelah sadar, kita harus mau atau bersedia meluangkan waktu dalam setiap harinya untuk menulis. Jangan muluk-muluk menuliskan sesuatu yang serius atau berat. Mulailah dulu dari menulis dari hal-hal yang sederhana. Semisal terkait hobi kita, makanan favorit, band kesukaan kita, dan semacamnya. Jangan terpaku pada tata bahasa atau ejaan. Sebab, dalam menulis di buku harian, yang dipakai adalah gaya bebas dan mengalir. Tidak ada aturan baku yang mengikatnya. Bahkan, kita bisa memasukkan bahasa-bahasa daerah atau bahasa kekinian dalam tulisan kita.
Sebab, intinya dalam menulis di buku harian adalah apa yang kita pikirkan dan rasakan tertuang dalam sebuah tulisan. Terakhir, untuk membiasakan diri menulis di buku harian yaitu kita harus berkomitmen untuk konsisten menulis. Pasang target setiap harinya berapa waktu yang kita alokasikan untuk menulis di buku harian. Manfaatkan waktu senggang seoptimal mungkin. Sebab waktu terus bergerak dan kita semakin menua. Kiranya itu saja yang saya sampaikan, semoga sedikit membawa pencerahan bagi pembaca sekalian. Terutama diri saya sendiri selaku penulis.
***
Penulis : Muhammad Aufal Fresky.