Berita Terkini
Penarafflesia.com - Women Crisis Center (WCC) Cahaya Perempuan Bengkulu mengambil peran aktif dalam menanggapi tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Provinsi Bengkulu. Dalam beberapa waktu terakhir, kasus kekerasan tersebut semakin meningkat, bahkan mencapai tingkat yang merenggut nyawa, seperti kasus di Kabupaten Kepahiang pada bulan Oktober lalu, di mana seorang suami membunuh istrinya dengan senjata tajam karena hal yang sepele.
Direktur Eksekutif Cahaya Perempuan, Leksi Oktavia, menyatakan bahwa saat ini kelompok mereka sedang membahas fenomena femicide sebagai puncak kekerasan terhadap perempuan. Mereka bekerja sama dengan pemerintah desa, pemerintah kabupaten/kota, dan unsur lainnya untuk mengangkat isu ini, dengan harapan dapat menyadarkan masyarakat akan dampak yang ditimbulkan.
"Dampak kekerasan ini tidak hanya dirasakan oleh korban, tetapi juga orang-orang terdekat dalam jangka waktu yang panjang. Kekerasan yang berujung pada kematian memiliki efek luar biasa terutama bagi orang tua dan anak-anak yang ditinggalkan," ungkap Leksi saat pertemuan FKFAR dan FMS tingkat Provinsi Bengkulu di salah satu hotel di Kota Bengkulu.
Cahaya Perempuan Bengkulu, sepanjang tahun 2023, telah melakukan pendampingan terhadap 59 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dalam menanggapi masalah ini, mereka mencoba untuk membawa kasus tersebut ke ranah hukum, mencari jalan perdamaian, atau bahkan memandu proses perceraian.
"Melalui pendampingan ini, kami berupaya memberikan dukungan dan solusi bagi para korban kekerasan. Tingginya jumlah kasus yang kami dampingi menunjukkan besarnya tantangan di Provinsi Bengkulu terkait kekerasan terhadap perempuan," tambahnya.
Pendidikan dan kesadaran masyarakat menjadi fokus utama Cahaya Perempuan dalam upaya pencegahan dan penanganan kasus kekerasan tersebut, dengan harapan bisa menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi perempuan dan anak-anak di Bengkulu.
Reporter : YM
Editor: Oki