Skip to main content

Bioteknologi, Alternatif Menuju Swasembada Padi Berkelanjutan Dimasa Covid 19

Oleh: Helda Susianti

Dosen: Prof. Ir. Marulak Simarmata, M.Sc, Ph.D

Saat ini pandemi virus corona atau COVID-19 menjadi sesuatu yang paling ditakuti di dunia. Penyebaran wabah pandemi COVID-19 yang sangat cepat bukan hanya berdampak luas di dunia kesehatan, namun sektor-sektor lain juga mendapat pengaruh dari adanya virus tersebut.

Kondisi ini telah menekan pertumbuhan ekonomi global dan menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang semakin meluas, termasuk di sektor pangan dan pertanian. Dalam kondisi penuh ketidakpastian akibat COVID-19, sektor pertanian menjadi pengaman pemenuhan kebutuhan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia.

Meskipun gangguan terhadap produksi pangan dan pertanian belum terlihat secara nyata di tingkat lapangan, namun dari hasil berbagai analisis menyebutkan bahwa dampak penyebaran COVID-19 akan menyebabkan terganggunya pasokan pangan dan kenaikan harga pangan di wilayah terdampak.

Penyebaran COVID-19 juga berimbas pada sektor pertanian. Misalnya terganggunya pasokan dan kenaikan harga pangan di wilayah terdampak, meskipun sejauh ini belum terjadi kekurangan pangan karena penyebaran COVID-19. Dampak ini masih sulit diprediksi, karena begitu banyak yang tidak diketahui tentang COVID-19, termasuk seberapa cepat penyebaran dan efektifnya tindakan pengendalian yang dapat dilakukan.

Sejauh ini dampak COVID-19 terhadap sektor pertanian belum banyak diketahui. Kajian ini akan menganalisis bagaimana penyebaran COVID-19 dapat membawa dampak ekonomi terhadap sektor pertanian di Indonesia.

Indonesia saat ini dalam posisi rentan atau rawan kekurangan pangan bila adanya gangguan  pada produksi baik akibat gangguan iklim atau dampak gangguan hama penyakit. Kebutuhan beras nasional menjadi isu utama dalam setiap kebijakan pemerintah dalam mengambil keputusan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kebijakan swasembada pangan merupakan target pemerintah, terutama dalam memenuhi kebutuhan pangan utama. Berdasarkan data produksi beras tahun 2018 yang dilansir dari Badan Pusat Statisik (BPS), dengan produksi beras 32,42 juta ton dari total luas panen 10,9 juta hektar sawah dan konsumsi tahunan 29,78 juta ton hanya tersisa 2,64 juta ton yang bisa menjadi cadangan.

Pada tahun 2050, penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 300 juta jiwa. Ketahanan pangan akan menjadi tantangan besar, karena untuk saat ini Indonesia telah mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan beras. Pembangunan ketahanan pangan sangat penting bagi Indonesia yang mempunyai jumlah penduduk sangat besar, sehingga kebutuhan pangan nasional akan terus bertambah dari tahun ke tahun sebagai akibat jumlah penduduk yang terus meningkat.

Selain kebutuhan beras yang semakin terus meningkat, terdapat persoalan alih fungsi lahan yang turut berperan dalam penurunan. Sembiring (2015) mengatakan, bahwa kendala dalam peningkatan produksi semakin kompleks karena berbagai perubahan dan perkembangan lingkungan strategis diluar sektor pertanian berpengaruh dalam peningkatan produksi tanaman.

Ancaman terganggunya ketahanan pangan karena berkurangnya produktivitas, sudah di depan mata, oleh karena itu program nasional peningkatan kuantitas dan kualitas padi menjadi sasaran utama dalam menyusun program pembangunan nasional. Tercapainya ketahanan pangan merupakan kondisi terjaminnya akses pangan yang cukup gizi bagi setiap orang pada setiap waktu, aman bagi kesehatan serta sesuai dengan nilai social, agama dan kepercayaan agar dapat hidup sehat dan produktif (Kementan, 2013).

Perkembangan Biotek Padi

Peningkatkan ini  area global tanaman biotek meningkat terutama disebabkan oleh profitabilitas yang lebih besar yang berasal dari harga komoditas yang lebih tinggi, peningkatan permintaan pasar baik domestik dan internasional, dan keberadaan teknologi benih yang tersedia. Semakin banyak negara-negara berkembang yang mengadopsi tanaman biotek. Sekarang ini, total ada 19 negara termasuk India, Pakistan, Brazil, Bolivia, Sudan, Meksiko, Kolombia, Vietnam, Honduras, dan Bangladesh yang telah meningkatkan area tanaman biotek.

Kerawanan pangan global telah menjadi masalah besar di negara-negara berkembang. Sekitar 108 juta orang yang hidup di negara-negara yang terkena dampak krisis pangan, berisiko mengalami kerawanan pangan.Di masa mendatang, bioteknologi terutama rekayasa genetik diharapkan memberikan kontribusi nyata dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia. Seluruh komponen bangsa Indonesia harus memikirkan kedaulatan pangan demi masa depan bangsa. Peran praktisi dan peneliti bioteknologi sangat strategis dalam membantu mewujudkan kedaulatan pangan khususnya berkaitan riset, pengembangan, dan penggunaan tanaman hasil rekayasa genetika serta produk bioteknologi lainnya di Indonesia.

Upaya Peningkatan Swasembada Padi Berkelanjutan

Menerapkan bioteknologiatau rekayasa genetikdalam upaya peningkatan produksi bahan pangan merupakan salah pendekatan yang sudah banyak terbukti, bahwa tanaman hasil bioteknologi memiliki produktivitas yang tinggi dan menguntungkan bagi petani, diantaranya dengan mengurangi biaya produksi, energi dan bahan kimia.

Produk rekayasa genetik memiliki beberapa keuntungan diantaranya: meningkatkan tingkat nutrisi bahan pangan. Gen tertentu dapat ditambahkan dalam susunan gen padi sehingga padi tersebut setelah dipanen dapat memproduksi beta-carotene yang dapat diubah oleh metabolisme tubuh manusia menjadi vitamin A. Padi yang dihasilkan dengan teknologi rekayasa genetika yang bernama ̳golden rice‘ ini berpotensi untuk mengurangi kekurangn vitamin A sebagai penyebab utama kebutaan danfaktor yang cukup signifikan terhadap kematian anak-anak di dunia, toleran terhadap cekaman lingkungan. Disamping itu, padi transgenik lainnya yang telah ada adalah Bt riceyang tahan terhadap hama penggerek batang, varietas dengan kandungan Fe pada beras yang tinggi, serta upaya memodifikikasi fotosintesis dari C3menjadi C4.          

Benih unggul adalah hal utama yang harus diperhatikan. Jika benihnya jelek, sudah pasti jelek budidayanya, benih biotek akan meningkatkan produktivitas dan mutu biotek melalui perbaikan potensi genetik. Permasalahan gulma yang mengurangi panen 30%-50% dapat diatasi oleh padi biotek toleran herbisida.beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja produksi pangan, di antaranya, peningkatkan penggunaan teknologi baru, perakitan varietas baru, perbaikan sarana prasarana produksi, menekan laju konversi, dan mencetak lahan pangan baru.

Perusahaan Multi Nasional seperti Monsanto dan Novartis membayangkan di masa depan lahan-lahan pertanian dipenuhi hasil panen yang tahan beku, tahan hama, tahan penyakit, sarat dengan gizi yang menyediakan pangan dunia dengan hasil yang semakin meningkat dengan penggunaan bahan kimia yang semakin sedikit. Ilmuwan mereka bekerja untuk merekayasa secara genetik pada tanaman padi,jagung kedelai dan lain lain sehingga itulah penerapan genetika dimasa depan.

Penulis merupakan Mahasiswa Program S2 Jurusan Agroekoteknologi Universitas Bengkulu

  • rica store

Berita Terkini