Berita Terkini
Oleh : Arif Hidayat
Dalam forum 100 Ekonom 2023, yang diselenggarakan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) bersama CNBC Indonesia. Ada jawaban capres yang membuatku jengkel mendengarnya. Padahal di forum seperti ini, digunakan untuk menjawab keresahan masyarakat di kalangan apa pun. Justru malah dibuat semakin galau.
Dari satu pertanyaan terkait kebijakan moneter yang diambil untuk memperkuat mata uang rupiah sudah membuat cemas, apalagi pertanyaan selainnya. Secara intinya Prabowo menjawab kita harus mandiri pangan dan negeri. Padahal kebijakan moneter terkait penetapan suku bunga bank, persebaran uang di dalam negeri maupun di luar negeri, pengendalian inflasi, serta pengaturan kredit.
Bisa dibilang secara masalah dan jawaban tidak ada hubungan sama sekali. Padahal pertanyaannya jelas terkait kebijakan moneter, akan tetapi semua dijawab dengan kebijakan fiskal. Terlebih awalnya sudah bilang setuju jatuhnya mata uang dapat menghancurkan negara, tetapi mengatasi persoalan saja salah kaprah. Jangankan menguatkan nilai kesaktian uang, mempertahankan saja masih dipertanyakan.
Pantas saja perusahaannya mandek 20 tahun alias tidak berkembang akibat kesulitan mendapatkan kredit. Mengurus asetnya saja tidak jalan, bagaimana mau memperjuangkan rakyat dan memajukan negara?
Balik lagi ke jawaban Prabowo. Dia menjelaskan persoalan moneter seperti krisis moneter 97/98 hanya untuk orang-orang ekonom, kota, ataupun elit, bukan rakyat kecil. Halo Pak Prabowo dengan hormat, padahal akibat kesalahan kebijakan ini, bisa berakibat inflasi tak terkendali.
Kalau mau buka-bukaan data, krisis moneter 97/98 membuat nilai tukar rupiah jatuh. Dari Rp 2.380 per dolar menjadi Rp 14.150 di bulan Juli 1998. Tentunya berakibat bahan kebutuhan pokok dan segala jenis barang apa pun mengalami kenaikan ugal-ugalan. Bagaimana rakyat bisa makmur dan mampu membeli barang dengan kondisi seperti itu?
Ditambah perusahaan banyak yang mengalami bangkrut bahkan gulung tikar. Alhasil rakyat kena PHK dan kehilangan pekerjaan. Bagi investor memilih pergi untuk menghindari kerugian semakin parah. Tentunya berakibat menghambat perekonomian dan pembangunan.
Terlebih masyarakat desa kecenderungan tidak menjadikan uang sebagai aset ataupun bentuk emas. Akibat nilai uang rupiah jatuh, warga dulunya bisa membeli beraneka ragam dengan uang Rp 5000. Waktu krisis hanya untuk membeli beras saja. Bagaimana nih Pak Prabowo, apakah masih rakyat kecil tidak mendapat dampak akibat krisis moneter?
Coba bayangin sendiri deh, Pak Prabowo. Ketika kehilangan pekerjaan, tidak ada penghasilan, dan barang kebutuhan pokok naik gila-gilaan serta susah mencari pekerjaan. Bagaimana, untuk bisa bertahan hidup dengan kondisi seperti itu.
Aku sendiri jadi bertanya-tanya, selama 20 tahun Pak Prabowo mempelajari moneter atau tidak. Apalagi sudah maju capres berkali-kali. Padahal pembuatan kebijakan itu, sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat secara luas.
Ini bukan hanya berbicara satu atau dua orang saja, tetapi nasib seluruh masyarakat Indonesia. Aku sendiri tidak mau pemimpin negara diduduki orang yang tidak kompeten di bidangnya serta krisis moneter terjadi lagi. Bisa gawat kalau orang tidak memiliki kemampuan menempati posisi penting. Terlebih di tahun 2023 masih menghadapi krisis global serta diperparah adanya peperangan. (Red)