Berita Terkini
Penampilan Gibran Rakabuming Raka dalam debat cawapres mengejutkan semua kalangan. Sebelumnya, banyak yang beranggapan bahwa anak muda berusia 36 tahun itu bakalan tidak mampu menghadapi apalagi mengimbangi kecerdasan dan segudang pengalaman Prof. Mahfud MD dan Cak Imin.
Diakui atau tidak, disadari atau tidak, Gibran telah menunjukkan kapasitasnya sebagai cawapres. Padahal, di dunia maya, tidak sedikit yang membully putra pertama Presiden Jokowi tersebut. Selain karena pencalonannya dianggap membegal konstitusi, Gibran dianggap belum pantas untuk mencalonkan diri sebagai wakil presiden RI. Tentu saja opini publik terbelah menjadi dua. Ada yang pro, ada juga yang kontra. Beragam argumen dilontarkan oleh pihak yang pro. Salah satunya yaitu kehadiran Gibran dalam kontestasi politik nasional dianggap sebagai pembuka peluang bagi generasi muda se-Indonesia untuk berkiprah dalam dunia politik dalam skala yang lebih luas lagi. Ditambah lagi ada yang menuturkan bahwa Gibran sebagai cermin atau representasi Presiden Jokowi yang bakalan melanjutkan beragam program dan kebijakan pemerintah sekarang. Sementara pihak yang kontra beranggapan pencalonan Gibran tidak sah sebab dibekingi oleh pamannya yang pada waktu itu sebagai ketua Mahkamah Konstitusi. Selain itu, Gibran dinilai belum cukup kompeten dan berpengalaman untuk mencalonkan diri sebagai wapres.
Saat beragam cacian dan ujaran kebencian dilontarkan kepada Gibran, dia justru menghadapinya dengan senyum santai ala anak muda. Tidak mudah terpancing emosinya. Malah kadang cengengesan seolah akan mengikuti lomba makan kerupuk antardesa. Tanpa beban Gibran melangkah; menceburkan diri dalam hiruk pikuk kontestasi politik nasional. Koalisi partai yang mengusungnya pun cukup banyak. Tokoh-tokoh pendukung yang ada di belakangnya juga sangat beragam. Mulai dari ulama, budayawan, pejabat, hingga artis nasional. Sama dengan pesaingnya yang juga didukung oleh banyak kalangan. Hanya saja Gibran seolah mendapatkan karpet merah karena kebetulan anak presiden dan keponakan ketua MK. Para kompetitornya pun menyerang Gibran sebagai bocah kemarin sore yang belum layak menjadi pemimpin, sebagai bukti nyata pelestarian dinasti politik, hingga dianggap sebagai pembegal konstitusi.
Namun, bagaimanapun juga putusan Mahkamah Konstitusi harus ditaati. Jika memang tidak suka atau enggan memilih Gibran, ya jangan coblos. Begitu saja. Cukup simpel sebenarnya. Saya tidak sedang membela Gibran secara membabi buta. Ini hanya pandangan saya sebagai orang awam terkait ingar-bingar pilpres 2024. Biarkan rakyat yang memberikan penilaiannya terkait pencalonan Gibran. Siapa tahu, rakyat kita memang sedang membutuhkan dan merindukan kehadiran pemimpin muda. Atau sebaliknya, menganggap pencalonan Gibran sebagai bukti kemunduran demokrasi di negeri ini. Entahlah, setiap orang bisa memberikan persepektifnya masing-masing.
Terkait debat cawapres beberapa hari yang lalu, saya pribadi tidak begitu terkejut dengan argumentasi yang disampaikan oleh Gibran. Sebab, sejak awal saya menilai anak muda satu ini cukup cerdas. Meskipun baru dua tahun pengalamannya sebagai walikota Solo, tapi pengalaman lainnya yaitu di dunia bisnis, saya kira cukup banyak. Dan itu juga sebagai bekal dalam melihat beragam problematika dari sudut pandang ekonomi dan usaha. Memang, lawan debatnya juga tidak main-main. Prof Mahfud dikenal sebagai ahli hukum, akademisi, dan pejabat publik yang malang melintang di dunia pemerintahan sejak zaman Gus Dur. Begitu juga dengan Cak Imin, dikenal luas sebagai aktivis kaliber dan politisi ulung sekaligus pimpinan partai.
Selain itu, Cak Imin juga berpengalaman sebagai legislator dan juga menteri. Rekam jejak Cak Imin dan Prof Mahfud sebenarnya sudah memenuhi syarat untuk memnbuat Gibran ketar-ketir dalam debat kemarin. Namun realitasnya berbicara lain. Justru Gibran tampil penuh percaya diri dengan performa terbaiknya. Seolah dia tidak peduli dengan beragam gelar yang disandang Mahdud MD atau juga segudang pengalaman yang dimiliki Cak Imin. Jika dalam sepak bola, Gibran seolah menjadi man of the match dalam acara debat tersebut. Alasannya, selain mampu mengemukakan visi misinya dengan jelas dan runtut, dia mampu meng-counter lawan-lawannya dengan argument yang cukup logis. Bukan berarti Prof. Mahfud dan Cak Imin tampil tidak maksimal. Hanya saja barangkali persiapan Gibran dan timnya ini cukup matang. Pantas saja jika ada yang mengatakan bahwa Gibran menjadi kuda hitam dalam kompetisi kali ini. Saat sebagian orang mengkerdilkan kemampuannya dan bahkan menganggap Gibran hanya bisa mencatut nama besar Jokowi, justru dalam debat tersebut Gibran mematahkan anggapan itu semua.
Kehadiran Gibran sebagai representasi kaum muda dalam pilpres 2024 memberikan warna tersendiri. Apalagi kita sedang berkemas-kemas menyongsong Indonesia Emas 2045. Tentu saja peran dan kontribusi kaum muda sangat dinantikan. Lebih-lebih dalam dunia politik. Kita membutuhkan lompatan-lompatan yang luar biasa untuk mewujudkan mimpi-mimpi bangsa ini. Jujur, kita membutuhkan lebih banyak lagi pemuda-pemuda yang visoner, cerdas, proaktif, dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap bangsa dan negaranya. Jika Gibran saja bisa tampil memukau di acara debat kemarin, kita seharusnya bisa lebih. Rasa-rasanya kemunculan Gibran bisa dijadikan pemicu atau pemantik bagi kaum muda se-Indonesia untuk membangun Indonesia. Kita perlu saling bersinergi dan berkolaborasi untuk mewujudkan impian bangsa dan negara ini menjadi mahakarya yang nyata. Kontestasi pilpres hanya lima tahun sekali. Gibran, Cak Imin, dan Prof Mahfud hanya berkompetisi sementara. Namun, kewajiban mengabdi kepada Tanah Air ini tetap selamanya.
***
Muhammad Aufal Fresky, Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi