Berita Terkini
Popularitas Tiktok, terutama di kalangan remaja, telah meroket dalam beberapa tahun terakhir.
Gempuran teknologi saat ini sangat berdampak pada kehidupan remaja. Para orang tua dituntut untuk lebih memperhatikan anak mereka di tengah maraknya platform media sosial. Sebab, belum lama ini, berdasarkan temuan dari peneliti Center for Countering Digital Hate (CCDH), Tiktok menyajikan konten yang dinilai merusak remaja, termasuk menyakiti diri, keinginan bunuh diri, dan gangguan makan.
Para peneliti menyamar sebagai anak berusia 13 tahun di platform. Pada 30 menit pertama, mereka merekam konten dari For You Page, umpan yang menyajikan preferensi konten pengguna. Namun, dalam waktu 2,6 menit saja, Tiktok sudah menghadirkan konten yang berkaitan dengan bunuh diri.
Delapan menit kemudian, Tiktok menyajikan konten gangguan makan. Rata-rata, mereka disuguhi konten yang berkaitan dengan kesehatan mental dan citra tubuh setiap 39 detik. “Orang tua khawatir dengan siapa anak-anak mereka menghabiskan waktu, hal-hal apa yang mereka dengarkan, tetapi sebenarnya karena aplikasi ini, yang tidak mereka ketahui, bisa jadi siapa saja. Terus terang, mengasuh anak menggunakan Tiktok adalah ide yang buruk,” kata CEO CCDH Imran Ahmed.
Dalam studi tersebut, para peneliti berinteraksi dengan konten berbahaya yang mereka temui. Saat mereka menyukai video itu, mereka akan menemukan kembali konten yang berkaitan dengan menyakiti diri sendiri, gangguan makan, atau bunuh diri.
Temuan Ahmed itu, segera dibantah oleh perusahaaan. Juru bicara Tiktok mengatakan, aktivitas para peneliti dan studinya tidak mencerminkan perilaku asli atau pengalaman pengguna sungguhan. Perusahaan menghapus semua konten yang disorot oleh laporan yang melanggar pedoman komunitasnya.
Tiktok melarang semua konten yang menggambarkan, mempromosikan, menormalkan, atau memuliakan aktivitas yang dapat membahayakan diri sendiri, serta konten yang mempromosikan perilaku atau kebiasaan makan yang cenderung memengaruhi kesehatan.
"Riset internal Meta sendiri menunjukkan Instagram berdampak negatif pada kesehatan mental remaja"
Peningkatan pengawasan
Dilansir CNET, (Republika) Senin (24/7/2023), popularitas Tiktok, terutama di kalangan remaja, telah meroket dalam beberapa tahun terakhir. Menurut analitik data.ai, sekarang platform tersebut memiliki 111 juta pengguna aktif bulanan di Amerika Serikat (AS). Namun, keberhasilan platform tersebut juga menarik perhatian spesialis keselamatan anak, pembuat undang-undang, dan regulator.
Pekan lalu, tiga anggota Kongres Amerika Serikat (AS) memperkenalkan undang-undang yang akan melarang platform milik Cina di AS karena kekhawatiran tentang adanya mata-mata dan propaganda. Penelitian yang diterbitkan oleh CCDH menyoroti masalah keamanan tambahan di platform.
Riset tentang Tiktok muncul lebih dari setahun setelah whistleblower Meta Frances Haugen mengungkap riset internal Meta sendiri yang menunjukkan bahwa Instagram berdampak negatif pada kesehatan mental remaja, terutama perempuan dengan gangguan makan. Sebagai hasil dari pengungkapan tersebut, Meta membuat sejumlah perubahan pada platform, termasuk menambahkan kontrol orang tua yang lebih kuat dan menjauhkan remaja dari konten yang mungkin tidak mendukung kesejahteraan mereka.
CCDH mengatakan, mereka menggunakan metodologi yang sama untuk melakukan penelitiannya ke Tiktok seperti yang digunakan Meta dalam studi internalnya sendiri. Para peneliti membuat total delapan akun terdiri atas dua akun berbasis di AS, dua di Inggris, dua di Kanada, dan dua di Australia.
Setengahnya memiliki nama pengguna umum dan setengahnya memiliki nama pengguna yang menyertakan unsur menurunkan berat badan di nama pengguna. Informasi itu untuk melihat apakah Tiktok akan menyajikan konten yang berbeda kepada anak muda yang mengidentifikasi diri mereka tertarik pada penurunan berat badan.
Mereka menemukan bahwa akun-akun itu mendapatkan sajian konten tiga kali lebih berbahaya daripada akun biasa. “Apa yang kami temukan benar-benar mengkhawatirkan adalah Tiktok mengenali kerentanan," ucap Ahmed.
"Orang tua khawatir dengan siapa anak-anak mereka menghabiskan waktu."
Center for Countering Digital Hate (CCDH)