Berita Terkini
BENGKULU – Pelaksanaan proyek strategis nasional Paket Preservasi Jalan Iskandar Baksir – Tanjung Kemuning – Batas (BTS) Lampung kini menjadi sorotan tajam. Proyek bernilai fantastis sebesar Rp 32.951.515.806,00 yang didanai melalui APBN tersebut diindikasikan mengalami deviasi mutu serius pada beberapa segmen pekerjaannya.
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, titik utama pelapisan aspal jenis Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC) mengalami gejala kegemukan aspal (bleeding atau flushing). Kondisi ini menyebabkan minyak aspal murni naik ke permukaan dan membuat jalan menjadi sangat licin, sehingga berpotensi tinggi memicu kecelakaan lalu lintas bagi pengendara yang melintas.
Tidak hanya itu, kualitas pekerjaan pemeliharaan rutin jalan berupa penambalan lubang (patching) juga dinilai dikerjakan "asal jadi". Terbukti, banyak titik tambalan baru yang baru berumur hitungan hari sudah kembali hancur dan terkelupas dari badan jalan.
Pengamat konstruksi lokal mensinyalir ada ketidaksesuaian takaran material dari formula yang disetujui. "Fenomena bleeding berat ini merupakan indikasi kuat bahwa kadar aspal yang dihamparkan melebihi batas toleransi yang ditetapkan dalam Job Mix Formula (JMF). Direksi Pekerjaan dan PPK harus segera memeriksa catatan uji ekstraksi laboratorium harian mereka," ujarnya kepada media.
Selain masalah komposisi campuran, kejanggalan besar juga terlihat dari aspek logistik material hotmix. Diketahui, aspal yang digunakan dalam proyek ini dipasok dari Asphalt Mixing Plant (AMP) milik PT Galan Panduwasesa Konstruksi yang berlokasi di Desa Lubuk Mukti, Kecamatan Penarik, Kabupaten Mukomuko.
Secara geografis, jarak angkut dari AMP Mukomuko menuju lokasi penghamparan di ruas Iskandar Baksir – Tanjung Kemuning (Kaur/Bengkulu Selatan) mencapai ratusan kilometer melintasi jalur barat Sumatera. Jarak ekstrem ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efisiensi dan kelayakan suhu aspal di lapangan.
Berdasarkan Spesifikasi Umum Bina Marga, suhu campuran aspal hotmix saat dituang ke mesin pengampar (finisher) mutlak harus terjaga di kisaran 130°C hingga 150°C. Dengan jarak tempuh antar-kabupaten yang memakan waktu berjam-jam, aspal sangat rawan mengalami penurunan suhu drastis (thermal segregation). Penurunan suhu inilah yang diduga kuat menjadi pemicu utama mengapa aspal tambalan cepat mengelupas karena kehilangan daya rekat optimal saat dipadatkan.
Masyarakat dan pengguna jalan mendesak Pejabat Pembuat Komitmen (PPK 2.3) Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Bengkulu untuk tidak tutup mata dan segera mengevaluasi kinerja kontraktor pelaksana serta Konsultan Pengawas (Supervisi) di lapangan.
Sesuai dengan pakta kontrak pengadaan barang dan jasa pemerintah, setiap hasil pekerjaan yang tidak memenuhi spesifikasi teknis dan mengalami cacat mutu dini tidak boleh masuk dalam progres pembayaran. Pihak rekanan wajib diinstruksikan untuk melakukan pembongkaran dan penghamparan ulang (rework) total pada segmen-segmen yang rusak demi menyelamatkan uang negara dan menjamin keselamatan publik.
Hingga berita ini diturunkan, media masih berupaya menghubungi pihak PPK terkait dan perwakilan PT Galan Panduwasesa Konstruksi untuk mendapatkan klarifikasi resmi mengenai temuan teknis tersebut. (Hb)