Berita Terkini
Tim Pengabdian UNIB Dampingi KUPS Register V
REJANG LEBONG - Tim Pengabdian Universitas Bengkulu (UNIB) terus memperluas kontribusinya dalam pemberdayaan masyarakat, melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kontribusi tersebut melalui pendampingan terhadap Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Register Lima di Desa Tebat Pulau, Kecamatan Bermani Ulu, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu.
Tim Pengabdian UNIB tersebut dipimpin Yusran Panca Putra, M.Kom yang merupakan Dosen Program Studi Sistem Informasi, dengn didampingi dua anggota pelaksana.
Diantaranya Hananda Fitra Pranatha, M.Pd tercatat sebagai dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling, serta Hefri Oktoyoki, S.Hut, M.Si, Dosen Bidang Ilmu Lingkungan.
Tim yang terdiri dari tiga akademisi tersebut membawa kepakaran yang saling melengkapi. Dimana, Yusran bertanggung jawab pada koordinasi dan pemetaan proses bisnis.
Sedangkan Hananda berfokus pada penguatan kelembagaan dan monitoring, sedangkan Hefri menangani aspek teknologi serta implementasi platform Airtable Cloud.
"Pendampingan yang kami lakukan, bertujuan untuk memperkuat tata kelola usaha agroforestri kopi berbasis digital," ungkap Yusran selaku Ketua Tim Pengabdian UNIB.
Pelaksanaannya dilakukan tanggal 20–21 Juli 2026, bertemakan "Pemberdayaan KUPS melalui Pendampingan Manajemen Usaha Berbasis Platform Digital untuk Penguatan Nilai Tambah Usaha Agroforestri Kopi".
"Kegiatan yang kami lakukan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026," ujarnya.
Kegiatan itu didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.
"Program ini menjadi salah satu bentuk kontribusi Perguruan Tinggi (PT) dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memperkuat kapasitas, tata kelola, serta kemandirian masyarakat," jelas Yusran.
Dari Pencatatan Manual Menuju Pengelolaan Berbasis Data
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah, tata kelola usaha yang sebelumnya masih dilakukan secara manual dan terpisah.
Menurutnya, pencatatan produksi, administrasi, keuangan dan pemasaran belum sepenuhnya terintegrasi. Sehingga data usaha belum optimal digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
"Jadi, dalam pendampingan yang kami lakukan, salah satunya memperkenalkan Airtable Cloud sebagai platform manajemen proses bisnis berbasis cloud," imbuh Yusran.
Sistem ini dirancang agar pengelolaan produksi, administrasi dan keuangan, serta pemasaran dapat dilakukan dalam satu sistem yang lebih terintegrasi.
"Pada aspek produksi, sistem dapat digunakan untuk mendokumentasikan data petani, luas lahan, volume dan kualitas panen," ucapnya.
Sementara pada aspek manajemen usaha, sistem mendukung administrasi kelembagaan dan pembukuan sederhana. Pada sisi pemasaran, tersedia pengelolaan database pelanggan, catatan penjualan, dan informasi tren permintaan.
"Pendekatan yang kami terapkan tidak sekadar memberikan teknologi saja. Tapi juga menggunakan pendekatan partisipatif dan kolaboratif pada masyarakat," papar Yusran.
"Kemudian melibatkan mitra sejak pemetaan kebutuhan, perumusan solusi, penerapan teknologi, hingga evaluasi dan keberlanjutan program," lanjutnya.
Teknologi untuk Memperkuat Potensi Kopi Masyarakat
Yusran menambahkan, digitalisasi tata kelola usaha penting, karena potensi produksi yang besar perlu diikuti dengan kemampuan pengelolaan yang baik.
"Tanpa pencatatan dan pengelolaan yang terintegrasi, potensi produksi belum tentu dapat dikonversi secara optimal menjadi nilai ekonomi bagi masyarakat," tambahnya.
Karena itu, penerapan teknologi diarahkan bukan hanya untuk mempercepat pekerjaan administrasi, tetapi juga membangun sistem informasi yang dapat membantu pengurus KUPS melihat kondisi usahanya secara lebih jelas.
"Sistem yang diterapkan memungkinkan data produksi, keuangan, pelanggan dan penjualan terdokumentasi secara lebih sistematis," sampai Yusran.
Dengan tersedianya data tersebut, pengurus KUPS memiliki dasar yang lebih baik untuk melakukan evaluasi dan mengambil keputusan usaha. Program ini juga menargetkan peningkatan kemampuan pengurus.
"Supaya mampu mengoperasikan sistem secara mandiri, termasuk melakukan input, penyuntingan dan rekapitulasi data. Selain itu, juga diarahkan untuk membangun database pelanggan serta pencatatan penjualan yang dapat digunakan dalam pengembangan pemasaran," kata Yusran lagi.
Menghubungkan Perguruan Tinggi dengan Kebutuhan Masyarakat
Bagi UNIB kegiatan tersebut menunjukkan pengabdian pada masyarakat tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi diarahkan untuk menghasilkan solusi yang dapat digunakan secara langsung oleh masyarakat.
"Kolaborasi tiga bidang keilmuan dalam tim pengabdian menjadi bagian penting dari pendekatan tersebut," tegas Anggota Pelaksana Tim Pendamping UNIB, Hananda.
Keahlian sistem informasi untuk membangun dan menerapkan sistem digital, penguatan kelembagaan mendukung proses perubahan tata kelola, sedangkan perspektif lingkungan perkuat kesesuaian teknologi dengan konteks perhutanan sosial.
"KUPS Register Lima sendiri bukan pertama kali menjadi mitra kami dalam program pengembangan berbasis teknologi," ujarnya.
Sebelumnya, Tim Pengabdian UNIB juga telah terlibat dalam pengembangan website dan pelatihan pemanfaatannya, untuk mendukung pemasaran produk kopi agroforestri KUPS Register Lima.
"Program ini dilaporkan memberikan dampak positif terhadap kemampuan pemasaran anggota, dan penguatan kontribusi KUPS terhadap ekonomi lokal," imbuhnya.
Bukan Sekadar Digitalisasi
Pendampingan di Desa Tebat Pulau pada akhirnya membawa pesan yang lebih luas, yakni transformasi digital di tingkat masyarakat tidak harus dimulai dari teknologi yang rumit.
Teknologi dapat menjadi alat untuk membantu masyarakat menata apa yang telah mereka miliki—potensi lahan, produksi kopi, jaringan pelanggan, dan aktivitas usaha—menjadi informasi yang lebih terstruktur.
"Sehingga dapat digunakan untuk menentukan langkah berikutnya," jelas Anggota Pelaksana lainnya, Hefri.
Melalui penguatan manajemen dan pemanfaatan teknologi tersebut, KUPS Register Lima diharapkan semakin mampu mengelola usaha secara mandiri, meningkatkan efisiensi dan transparansi.
"Serta memperkuat nilai tambah komoditas agroforestri kopi," harap Hefri.
Lebih lanjut, Hefri mengemukakan, pengembangan teknologi di tingkat desa tidak hanya berbicara tentang digitalisasi, tetapi tentang bagaimana pengetahuan dan inovasi PT dapat diterjemahkan menjadi kekuatan baru bagi masyarakat.
"Terutama dalam mengelola potensi lokal secara berkelanjutan," pungkasnya.