Berita Terkini
Penarafflesia.com - Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) berencana menggunakan teknologi wolbachia ke lima kota di Indonesia, yakni Jakarta Barat, Bandung, Semarang, Bontang, dan Kupang. Teknologi wolbachia yang dimaksud adalah penyebaran nyamuk aedes aegypti yang diinfeksi bakteri wolbachia untuk menekan penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia.
Sebagaimana diketahui, DBD masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Pemerintah bahkan sudah melakukan berbagai upaya sejak tahun 1970, mulai dari fogging dan sebagainya. Akan tetapi, upaya yang dilakukan tersebut belum sepenuhnya bisa mengendalikan penyakit DBD di Indonesia.
Karenanya, kehadiran inovasi teknologi wolbachia ini diharapkan bisa membantu sebagai pelengkap upaya program pemerintah untuk menekan angka penyebaran DBD.
Informasi hoaks seputar nyamuk wolbachia kembali mencuat, menyusul uji coba bakteri ini di beberapa daerah Indonesia yang mencuri perhatian publik.
Namun ada beberapa fakta terkait nyamuk jenis ini yang dapat mencegah penyakit demam berdarah meluas.
1. Wolbachia Diteliti Sejak Tahun 2011
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa efektivitas wolbachia telah diuji sejak 2011 oleh World Mosquito Program (WMP) di Yogyakarta dengan dukungan filantropi dari yayasan Tahija. Penelitian melibatkan fase persiapan dan pelepasan aedes aegypti berwolbachia dalam skala terbatas (tahun 2011-2015).
Uji coba sebelumnya di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul pada 2022 menunjukkan keberhasilan dalam menekan kasus DBD. Presentase penurunan mencapai 77 persen, dengan penurunan proporsi dirawat di rumah sakit sebesar 86 persen. Masyarakat diimbau mencari informasi akurat terkait Wolbachia.
2. Mampu Lumpuhkan Virus DBD
Kemenkes juga mengungkapkan bahwa Wolbachia dapat melumpuhkan virus dengue dalam tubuh nyamuk aedes aegypti, mencegah penularan ke manusia. Jika nyamuk betina berwolbachia kawin dengan yang tidak, maka virus dengue pada nyamuk betina akan terblok.
3. Teruji di Sembilan Negara
Teknologi wolbachia telah sukses turunkan DBD di sembilan negara, termasuk Brasil, Australia, Vietnam, Fiji, Vanuatu, Meksiko, Kiribati, Kaledonia Baru, dan Sri Lanka. Harapannya, teknologi ini segera diterapkan di Indonesia mengingat mendekati musim DBD.
4. Tidak Ada Rekayasa Genetik Dalam Wolbachia
Wolbachia adalah bakteri alami pada serangga, termasuk nyamuk, dan bukan produk rekayasa genetik laboratorium. Prof. dr. Adi Utarini dari Universitas Gadjah Mada menegaskan bahwa baik wolbachia maupun nyamuknya tidak mengalami modifikasi genetik.
5. Masyarakat Diharapkan Tidak Percaya Hoaks
Inovasi dalam penanganan DBD melalui program Wolbachia telah berhasil diimplementasikan di beberapa kota di Indonesia. Masyarakat diimbau untuk tidak mempercayai hoaks terkait program ini, dengan Jakarta Barat menjadi kota penyebaran nyamuk wolbachia pada awal Desember 2023.
Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinkes DKI, Ngabila Salama menegaskan bahwa Wolbachia adalah inovasi berbasis teknologi pemerintah yang diharapkan dapat menurunkan kasus DBD.
Editor : Oki