Skip to main content

Pemkab Mukomuko Bentuk 13 Desa Tangguh Bencana

Penarafflesia.com - Pemkab Mukomuko Provinsi Bengkulu melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah membentuk 11 desa tangguh bencana yang tersebar di beberapa kecamatan di daerah ini. Untuk tahun 2023 ini BPBD Mukomuko kembali membentuk 2 desa tangguh bencana (Destana) yakni Desa Rawa Mulya (SP7), Kecamatan XIV Koto, dan Desa Pondok Batu, Kecamatan Kota Mukomuko.

“Desa tangguh bencana sebelumnya sudah terbentuk 11 desa tangguh bencana, untuk tahun ini di tambah 2 desa lagi sehingga totalnya sudah terbentuk 13 desa tangguh bencana di daerah ini,” ungkap Kepala BPBD Mukomuko, Ruri Irwandi, kemarin.

Menurutnya, desa tangguh bencana adalah desa atau kelurahan yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi potensi ancaman bencana, serta memulihkan diri dengan segera dari dampak dampak bencana yang merugikan.

Dikatakan Ruri bahwa Kabupaten Mukomuko merupakan sebuah kawasan yang rawan akan potensi bencana seperti bencana banjir, bencana tanah longsor atau ambles, abrasi, gempa bumi dan tsunami serta kebakaran hutan. 

Desa tangguh bencana dibentuk agar kita bisa mampu memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap potensi-potensi bencana yang ada.

“Desa tangguh bencana tidak dapat dicapai hanya mengandalkan kerja masyarakat atau pemerintah sendiri. Sinergi antar program-program yang sudah ada di desa atau kelurahan menjadi salah satu kunci keberhasilan program ini, untuk itu perlu kerjasama pemangku kepentingan sangat diharapkan demi tercapainya masyarakat tangguh bencana,” terangnya.

Lanjutnya, adanya program Destana ini diharap memiliki nilai positif yang cukup besar baik bagi masyarakat maupun pemerintah desa itu sendiri banyak pembelajaran tentang kebencanaan yang diperoleh masyarakat dan pemerintah desa. 

“Karena masyarakat bukan jadi objek saja sekarang masyarakat menjadi subyek dalam pengurangan resiko bencana atau mitigasi bencana,” ucapnya.

Lanjut Ruri, setelah desa mampu untuk beradaptasi dari potensi-potensi bencana tersebut kemudian desa harus mampu melakukan upaya-upaya pengurangan resiko bencana melalui strategi ketangguhan bertujuan menjauhkan masyarakat dari bencana.

“Bencana yang datang tidak bisa diprediksi namun untuk penanganan resiko bencana harus ada desa tangguh bencana serta terbentuknya forum penanggulangan resiko bencana san juga terbentuknya relawan-relawan dalam penanggulangan resiko bencana,” demikian Ruri. (RL)

  • rica store

Berita Terkini