Pra – Praperadilan, PN Serang Menjadi Pusat Perhatian

Serang – Lanjutan Persidangan Pra – Praperadilan dengan Agenda bukti surat dan saksi dari pemohon, Sabtu (09 April 2020).

Pemohon Hayati Nufus istri dari Abdul Rhoman menyiapkan bukti surat dari p-1 s/d p-11dan 2 orang saksi.

Saksi satu Abdul Goni, menerangkan tentang penangkapan Abdul Rohman pada hari Selasa tanggal 17 maret 2020. Terkait dengan penangkapan serta penyitaan satu unit mobil Vios tidak ada kaitannya dengan permasalahan tersebut. Advokat Polda mencecar pertanyaan terkait proses penangkapan yang dilakukan Polda.

Saksi dua menyampaikan hal yang sama bahwa Abdul Rohman ditangkap pada hari Selasa tanggal 17 Maret 2020. Sementara surat perintah penangkapan baru dibuat serta diberikan kepada istri Abdul Rhoman tanggal 18 Maret 2020.

Dalam persidangan kesaksian, serta pembuktian pada tanggal 8 Maret 2020. Pemohon Hayati Nufus, mencecar suatu pertanyaan kepada Penyidik yang dijadikan saksi. Terungkap Pemohon mempertanyakan terkait kondisi suaminya Abdul Rohman babak belur pada saat di besuk.

Pemohon menduga dipukuli oleh penyidik pada saat ditanya siapa yang melakukan pemukulan terhadap suaminya. Saksi dari pihak polda mengatakan tidak mengetahui.

“Sungguh aneh tapi nyata, setingkat Polda memberikan jawaban seperti itu jelas – jelas fakta kondisi Abdul Rohman mulai dari wajah atau muka serta tubuh suaminya lembab biru2 terlihat jelas pemukulan dengan benda tumpul,” jelasnya Hayati Nufus.

Ungkapnya, saya tidak akan berhenti sampai di sini dunia dan akhirat bila putusan berpihak kepada termohon. Dan saya akan melakukan banding untuk memperjuangkan suami saya karena tidak bersalah.

Hayati Nufus mempertanyakan Pasal 36 fidusia itu bisa diterapkan bagi debitur. Apakah atas nama sebagai debitur kendaraan roda empat 1unit mobil Brio tersebut ikut serta diproses dalam hal ini.

Kemudian terang Hayati Nufus, suami saya dikenakan pasal 480, seorang penadah dari hasil kejahatan barang bukti pun tidak ada hanya sebatas cuitan orang saja.

“Opam Mabes Polri dan ke Paminal Mabes Polri serta tidak hanya sampai itu. Saya juga berencana akan membawa kasus ini ke komisi III DPRRI Bidang Hukum untuk mencari perlindungan serta kepastian Hukum atas suami saya,” Tegasnya.

Pemohon Hayati Nufus usai persidangan di PN serang pada hari Selasa tanggal 7 april 2020 membeberkan tentang kejadian yang menimpah suaminya sampai mengajukan Prapradilan.

Menurutnya, pada tanggal 17 Maret 2020 datang 10 anggota dari pihak Kepolisian kerumahnya dengan membawa secara paksa suaminya, saat itu hanya dimintai keterangan sebagai saksi ucap salah satu pihak kepolisian.

“Dengan menyampaikan kepada saya saat itu. Namun sampai detik ini suami saya ditahan dirutan Polda Banten sudah selama 21 hari, masih menurut dari keterangan itu lah alasan saya mengajukan Prapradilan,” tuturnya.

“Proses Prapradilan salah satu upaya satu – satunya harapan untuk membebaskan suami dengan mencari keadilan serta mendapatkan kepastian Hukum,” terang Hayati Nufus.

Dengan mendaftarkan Prapradilan pada tertanggal 20 Maret 2020 teregister di PTSP PN Serang dengan No perkara:6/pid.pra/2020/pn.Srg. Pada hari Senin tanggal 30 Maret 2020 baru mendapatkan Relas untuk bersidang. Hayati Nufus hadir sebagai pihak Pemohon dan sebagai pihak Termohon Polda Banten tidak hadir.

“Saya hanya mendapatkan pesan WA dari PP, bahwa jadwal sidang lagi pada hari Jumat  tanggal 4 April 2020 berarti 3 hari tertunda tanpa mendapatkan kejelasan. Usai sidang pada tanggal 4 April 2020 Hakim memberitahukan kepada para pihak dengan agenda persidangan berikutnya, Pangkas Hayati Nufus.

Termohon diperintahkan oleh Majelis untuk membuat jawaban dan diberi waktu hanya dalam kurun ( satu ) 1 jam pada saat persidangan Prapradilan pada hari Selasa tanggal 7 April 2020 dan. Seharusnya Prapradilan selesai selama 7 hari dengan berdasarkan ketentuan pasal 82(1) huruf c dan pasal 79.pasal 80 dan pasal 81.

Sesal Hayati, saya bilang ada sesuatu yang janggal dengan PN Serang dalam khasus suaminya dan saya keberatan dengan agenda sidang yang disampaikan oleh Hakim Majelis pada tanggal 4 April 2020, kemudian sidang ditentukan pada tanggal 7 April 2020.

Ada perubahan agenda sidang yang seharusnya hari Selasa tanggal 4 April 2020 dan saya pun baru menerima jawaban dari pihak termohon pada tanggal 7 April 2020 di hari Selasa dan saya diperintahkan untuk membuat Replik tersebut dengan waktu (satu) 1 jam oleh Majelis Hakim dan saya menyanggupinya, selesai membuat Replik, sidang pun dilanjut dengan menyerahkan Replik, kemudian Hakim pun memerintahkan kepada pihak Termohon untuk membuat Duplik hari ini juga dengan diberikan waktu (satu) 1 jam juga  dengan Pemohon dan selaku pihak dari Termohon yang diwakili oleh Kuasa hukumnya menyanggupi untuk membuat Duplik dalam waktu satu jam.

“Kemudian sidang dilanjut dengan menyerahkan Duplik, artinya sidang hari ini meraton, karena saya keberatan sidang Prapradilan sampai memakan waktu 7 hari lebih dan akhirnya Hakim merespon menerima atas keberatan saya Syukur berkat Doa saya dikabulkan Allah SWT. Alhamdulillah mas, Majelis Hakim pun menjadwalkan persidangan kembali pada hari Rabu tanggal 8 April 2020 untuk saksi serta bukti,” tutupnya.

Reporter : Kris