“Gejolak” Demo Nakes RSMY Bengkulu

Bengkulu – Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Muhammad Yunus (RSMY) Bengkulu memanggil secara tertutup koordinator lapangan demonstrasi dan beberapa tenaga kesehatan (Nakes) terhadap insentif dan remunerasi COVID-19 yang belum cair sejak 2020 lalu.

Panggilan secara tertutup ini disampaikan melalui surat Nomor 006/002/BIDKEP/RS/II/2021 tentang pemeriksaan dugaan pelanggaran kode etik Nakes yang berstatus pegawai negeri sipil, Sabtu, 6 Februari 2021.

Namun para Nakes memilih tetap melakukan aksi dengan membentang spanduk bertuliskan “Cairkan Segera Remun November-Desember-Januari 2020 sampai dengan 2021”, “Evaluasi Segera Manajemen RSMY”, “Kok Gue Selalu Jadi Korban PHP”, “Semangat Tetap Kawal Pencairan Dana COVID-19, “Intimidasi Bukan Solusi, Pelanggaran Mana Yang Kami Lakukan”, dan lain-lain.

Mereka menyampaikan mosi tidak percaya terhadap direktur  dan jajaran manajemen RSMY Bengkulu perihal kesejahteraan karyawan.

“Kami tergabung dari perawat, bidan, dokter, serta tenaga kesehatan lainnya dan karyawan lainnya menyampaikan aspirasi karena menuntut hak kami yang belum dibayarkan sejak beberapa bulan lalu,” kata korlap aksi Saleh, Senin (8/2/2021).

Saleh mengatakan ada beberapa tuntutan yang disampaikan yakni penyelesaian pembayaran remonasi dari bulan November 2020 sampai dengan Januari 2021 senilai kurang lebih Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta perorang setiap bulan.

Kemudian dana berupa insentif untuk nakes COVID-19 mulai Juni sampai dengan Desember 2020 senilai Rp 7,5 juta perorang setiap bulannya. Serta uang lauk pauk mulai November 2020 hingga Januari 2021 senilai Rp 700 ribu perorang.

Dari pengakuan peserta aksi, Rica menyebutkan setidaknya ada 200 Nakes yang sampai saat ini belum mendapatkan haknya.

Sementara pihak pemerintah provinsi yang menengahi, menjanjikan insentif akan dibayarkan akhir Februari. (Op)