64 Lembaga Tuntut PT. Inmas Abadi, Meminta Gubernur Bengkulu Cabut Izin dan Tolak AMDAL

Bengkulu – Koalisi Selamatkan Bentang Alam Seblat gelar aksi meminta Menteri LHK tidak mengakomodir PT. Inmas Abadi mempersiapkan dokumen AMDAL dan kepada Gubernur atau Menteri untuk mencabut izin No. i.315 ESDM tahun 2017 tentang Izin Usaha Pertambangan (IUP) operasi produksi kepada PT. Inmas Abadi yang menjadi asal muasal kekacauan bentang seblat

Aksi ini terdiri dari 64 Lembaga organisasi, koalisi gabungan antara mahasiswa, OKP, NGO dilakukan di simpang lima Kota Bengkulu, Senen, (25/10).

Aksi ini merupakan rangkaian penolakan yang sudah sejak lama disuarakan sejak adanya izin pada tahun 2017.

Presiden Mahasiswa Universitas bengkulu, Tere Ade Rempas menilai bahwa  tambang batu bara PT. Inmas Abadi hanya akan mengakibatkan dampak buruk yang berkelanjutan dan memunculkan masalah baru untuk lingkungan di kawasan Bentang Alam Seblat khususnya masyarakat terdampak.

Ia mencontohkan, permasalahan seperti di PLTU Teluk Sepang dan beberapa perusahaan lain yang akhirnya hanya menanamkan bibit permasalahan baru di Bengkulu. Hingga saat ini belum mampu dituntaskan oleh Pemerintah Pusat dan Daerah.

Respi Candra Pratama, Koordinator Pusat koordinasi Daerah  Mahasiswa Pecinta Alam se-Provinsi Bengkulu menyatakan bahwa kawasan bentang alam seblat adalah rumah terakhir gajah tersisa.

“Selamatkan bentang alam seblat jangan sampai gajah hanya dianggap mitos oleh generasi selanjutnya,” jelasnya.

Olan Sahayu Manager Kampanye Energi Kanopi Hijau Indonesia mengatakan runtuhnya daya dukung dan daya tampung bentang seblat akan merugikan banyak pihak. Petani merugi, karena ancaman banjir bandang di wilayah persawahan dan kebun mereka, pelaku wisata merugi karena tidak ada lagi daya tarik yang bisa dinikmati oleh wisatawan lokal maupun internasional.

Bahkan negara akan merugi karena program konservasi yang sudah dilaksanakan akan sia-sia, belum lagi biaya yang akan dikeluarkan negara jika banjir bandang menghantam

“Permintaan kami hanya meminta kepada menteri untuk tidak bermain-main dengan keselamatan bentang seblat, terlalu banyak korban yang akan jatuh jika bentang seblat hancur, satwa gajah, harimau, serta aktivitas pemenuhan kebutuhan hidup warga,” terang Olan alumni Mahasiswa Kehutanan Unib ini.

Editor: Oki